Lima ‘Hot Rules’ Cara Sukses Menanamkan Nilai-Nilai Perusahaan

Afril Wibisono

Saya dari dulu memang suka segala sesuatu yang hot.  Baik dari arti kata hot untuk pedas, maupun hot dalam arti sebenarnya, seksi. Maksudnya,bukan seksi di pornografi ya, tapi lebih kepada makna ‘hebat’. Dua-duanya menantang saya. Dua-duanya membuat saya semangat. :)

Seperti ‘Hot Rules’ yang sekarang kita bahas. Saya sebut hot karena memang sangat implemantif dan teknikal sehingga mudah untuk diikuti.  Hot yang lainnya, karena saya sudah mencobanya sendiri. Jadi khusus untuk topik ini, tidak ada referensi literatur selain pengalaman saya sendiri.

Oke, kita mulai ya.  Belajar dari pengalaman di perusahaan – perusahaan sebelumnya, saya mengalami banyak hal tentang bagaimana mensukseskan nilai-nilai perusahaan agar mau tertanam di setiap individu karyawan, baik dalam pikiran, hati dan perilaku. Berikut Hot Rules -nya

Pertama,  tidak membuat audiens bingung. Audiens dalam hal ini adalah karyawan yang merupakan stakeholder internal terbesar.  Mulai dari nilai-nilai apa yang ditentukan, bagaimana filosofinya, bagaimana sebutannya, bagaimana lambangnya/iconnya, dan sebagainya.  Inti dari nilai-nilai tersebut apa. Apa alasan background-nya, bisa berkontribusi tidak untuk pencapaian visi misi. Bagaimana caranya. Dan sebagainya.

Kedua, adalah change the wording into something more accepted and ever lasting in human brain. Oke, maksudnya adalah tolong jangan anggap semua manusia di dunia ini termasuk karyawan di perusahaan Anda bekerja pintar seperti Einstein. Tidaklah demikian loh. Mereka suka hal-hal yang tidak ribet. Lebih ingat pada hal yang menarik.  Lebih jatuh cinta pada yang indah. Lalu apakah nilai-nilai yang berpoin-poin itu (biasanya nilai perusahaan lebih dari 3 poin), bisa memenuhi itu? Makanya, cara bulusnya buatlah icon menarik untuk setiap nilai perusahaan Anda. Buat yang betul-betul terkait dengan nilai tersebut. Jangan jauh-jauh memberikan ilustrasi gambar/icon/lambang pada arti nilai yang sudah ada. Nanti malah jadi tanda tanya.  Gambar dengan warna warni yang eye-catching pasti lebih mudah diingat. Dan ingat, dengan memiliki icon-icon nilai maka nilai bisa ditaruh di atribut mana saja, seperti seragam, mug, kartu nama, kop surat, email template, dan sebagainya. Video, theme song juga bisa membantu karyawan ingat terus sama nilai-nilai perusahaan anda.

Ketiga, availability dan sustainability. Jika ingin sukses menanamkan nilai, ya pastikan keberadaan simbol-simbol nilai ada dimana-mana.  Sehingga sadar tidak sadar si karyawan melihat, teringat, dan melakukan.  Dan karena ini merupakan akar dari corporate culture, maka keberlanjutan untuk terus berkampanye akan nilai-nilai perusahaan harus terus ada.

Kempat, push them into behavior experience. Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Nah ini bukan sudah tidak kenal lagi, tapi sudah diharuskan mengalami itu sendiri.  Maka dari itu, kampanye nilai perusahaan jangan cuma di atas kertas.  Tapi harus diaplikasikan.  Bekerjalah dengan bagian HRD management, yang bisa mempolakan perilaku nilai ke dalam penilaian performa karyawan dalam bekerja. Jadi, mau tidak mau, nilai-nilai perusahaan tersebut dipakai.

Kelima, awarding. Biasanya kan sebuah perusahaan besar (mostly perusahaan yang concern sekali dengan kampanye nilai-nilai perusahaan itu adalah perusahaan besar atau perusahaan yang mau besar :) ) selalu punya hari besar atau hari istimewa lah untuk dirayakan bersama.  Biasanya bentuknya semi formal atau malah non formal.  Nah, pada momen tersebut pantas jika kita memberikan penganugerahan terhadap karyawan yang menjalankan nilai perusahaan paling baik.  Jadi semacam lomba tahunan atau semesteran yang intinya memacu semangat karyawan untuk bersama-sama mensukseskan nilai perusahaan menjadi perilaku karyawan yang paling ideal sehingga corporate culture bisa lebih mudah terbentuk.

Demikian. Ada tanggapan, go ahead. I’ll be right here waiting. :)

Posted by Afril Wibisono

Posted in Communication Studies | Tagged , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Strategi Membangun Komunitas Online, Upaya Mendekatkan Customer terhadap Brand

Afril Wibisono

Di tulisan saya kali ini, saya tidak mau banyak berteori.  Saya cuma mau bercerita tentang pengalaman saya membangun brand awareness Chicco Indonesia. Walaupun sudah tidak lagi bekerja di sana, saya masih bisa tersenyum karena ada peninggalan baik untuk Chicco. Setidaknya Chicco meraih kategori  Top Brand versi Majalah Frontier 1 tahun yang lalu, 2 tahun berturut-turut.

Sebagai Founder komunitas online Chicco yang bernama Bettermomtoday, baik Bettermomtoday websitenya (www.bettermomtoday.com ), Facebook dan Twitter, saya bisa dikatakan tidak mudah menyakinkan top management bahwa ini akan menjadi senjata aktif yang nantinya bisa mendukung sales Chicco.  Karena memang background saya sebagai PR yang tidak langsung berhubungan dengan Sales, wajar jika Top Management agak skeptisketika saya mengajukan program ini,  yang memang saya akui biayanya agak besar.

Singkatnya, begitu saya mendapatkan persetujuan, saya langsung beraksi. Berbekal pengetahuan dan pengalaman membangun website-website sebelum ditambah referensi buku-buku dan seminar, saya bersama team mulai membuat site map. Tentunya site map adalah bagian-bagian strategi saya yang disesuaikan dengan tujuan membuat komunitas online ini, yakni (1) membangun awareness Chicco di 3 tahun pertama dan (2) alat promosi sekaligus penjunjang  penjualan Chicco di dunia E-Commerce di tahun ke-3.

Sebuah Perjalanan Panjang

Kenapa perjalanan panjang? Karena sampai sekarang pun bettermomtoday website masih belum selesai, setidaknya dalam system reporting-nya.  Tapi 95% operasional website sudah bisa berjalan.  Dengan tagline’ where moms talk’ dan konsep ingin menjadi berguna bagi konsumen/future konsumen Chicco (masih ingat kenapa sebuah brand bisa berhasil di dunia marketing PR 2.0? karena brand tersebut memakai konsep ini – bisa pilih salah satu, atau semuanya : (1) to entertain (2) to inform (3) to help/support and (4) to be daily friend ), maka website komunitas Bettermomtoday syarat dengan informasi-informasi yang berguna bagi ibu/calon ibu baik dari sisi kehidupan individu, sosial, karir, kesehatan sampai pertumbuhan si bayi sebelum – dalam kandungan – setelah lahir.  Bettermomtoday juga syarat dengan tool-tool yang bakal digemari bunda modern seperti Get My Body Back, Forum Bunda di Moms Talk, Lifebook Diary, Expert Talk dan Point & Rewards.  Games untuk si kecil pun disediakan di sini.  Singkatnya website bettermomtoday ingin narsis berguna menjadi teman sejati buat si bunda.

Hampir minimal 4 kali kita eksis dengan berbagai postingan bermutu dan artikell di Facebook.  Ratusan artikel telah dibuat secara menarik layaknya artikel di Kompas. Ratusan foto, puluhan kontes, jutaan hadiah telah dibagikan guna meramaikan bettermomtoday.  Semua konten yang akan tayang 1 bulan ke depan sudah ditentukan di bulan sebelumnya, sehingga persiapannya benar-benar matang.

Satu tahun lamanya akhirnya, website bettermomtoday tumbuh bersama bertambahnya member-member, baik dari  website-facebook-twitter. Saat ini, di facebook sendiri bettermomtoday sudah mencapai anggota sebanyak 13 ribu orang (tanpa peran program ATL dari apapun juga). Sementara website bettermomtoday per detik ini sudah mencapai 2300-an.  Rangking website komunitas pun naik dari bulan ke bulan. Aktivitas keaktifan baik di facebook dan website tumbuh terus menerus, menandakan animo masyarakat yang tinggi. Bettermomtoday mulai  terkenal, Chicco mulai diperbincangkan.

Mulai Kelihatan Hasilnya

Kenapa saya bilang Bettermomtoday mulai terkenal? Karena pernah kita mengadakan survey acak terhadap komunitas ibu-ibu tertentu, dan mengenal komunitas Bettermomtoday.  Kenapa awareness Chicco naik? Karena kami juga mengadakan survey perorangan lewat telepon dan internet, rata-rata sudah mengenal Chicco adalah produk baby berkelas dari Italy, sebuah statement yang kita selipkan setiap kesempatan yang memungkinkan.  Statement ini kita selipkan di iklan-iklan digital di website, artikel, gambar, video sampai fitur-fitur unggulan.  Statement ini tidak menguasai semua konten project Bettermomtoday, karena tetap mayoritas 90% konten isinya adalah yang berguna  bagi si bunda.

Proses review dari review sederhana sampai review detail tentang progress Bettermomtoday rutin dilakukan setiap awal bulan. Lepas dari system reporting Facebook Fans Page yang sangat membantu kita untuk menentukan kesukaan member dan strategi konten selanjutnya, kita juga sangat dibantu oleh system reporting website Bettermomtoday yang walau belum 100% selesai, sudah bisa berdampak baik bagi langkah strategis selanjutnya.  Sistem SEO yang sudah ditanam di website pun mulai kelihatan hasinya.  Di beberapa keyword strategis kita  bisa tampil di halaman satu Google. Rangking website pun naik baik versi Alexa maupun Cubestat. Walaupun belum bisa menyamai situs ibu-anak yang lebih dulu eksis, rapot pertumbuhan digital project Bettermomtoday sudah membuat saya puas di tahun pertama bettermomtoday ada.

Langkah Progress atau Kelewat Cepat?

Lewat report bulanan Bettermomtoday, sudah terbukti mulai ada ‘Customer Engagement’ terhadap Bettermomtoday, yang juga berujung pada awareness si member terhadap brand Chicco. Sadar tidak sadar, persepsi mereka untuk mengarah ke persepsi brand mulai terjadi, entah itu melalui proses dialog antar sesama anggota maupun anggota terhadap brand. Atau bisa jadi monolog intra pribadi.  Tak ayal banyak pertanyaan yang muncul dari member tentang progam-program promosi Chicco, produk yang sedang promo di Chicco, fitur terbaru dari sebuah stroller Chicco dan lain sebagainya.

Muncullah keinginan dari top management untuk mempercepat Bettermomtoday tidak sekedar mesin brand awareness tapi juga profit.  Walau di goal awal adalah tiga tahun setelah komunitas Bettermomtoday eksis baru mulai mencari profit, ternyata dianggap setingan waktu ini terlalu lama. Sehingga di tahun kedua ini,  Bettermomtoday harus bisa menjadi tool pendukung untuk social and e-commerce bagi produk-produk Chicco Indonesia. Hm .. saya sih sah-sah saja. Walaupun di dalam lubuk hati saya melihat ini masih terlalu dini, karena walau ‘customer engagement’ sudah terlihat, bukan berarti jumlah persentase ini mampu mengatakan ini saatnya untuk melakukan social and e commerce, karena karakter pasti si target pembeli ini belum terbentuk.  Maksudnya, adalah perlu dilakukan lebih dalam mengenai customer behavior yang ada di setiap member bettermomtoday.  Karena jika ini saja belum ada kepastiannya, bagaimana kita bisa mengukur kalau program ini akan berhasil?

Namun tren dan booming social and e commerce ini ternyata mampu menciptakan ‘positive thinking’ bahwa memang sudah waktunya strategi profit dipercepat.  Yang perlu saya rekomendasikan jika memang ini akan dijalankan adalah;

-          Setidaknya fokus dulu melakukan social commerce di Facebook atau twitter, paling tidak 3 bulan untuk me-review animo member-member yang ada di Facebook. Saya anjurkan banyaklah bermain di produk-produk promo yang mendukung program promo Chicco untuk menjaga loyalitas customer.  Kenapa? Karena Chicco bukan produk China yang murah dan rusak lalu beli lagi yang baru. Bukan. Saya percaya customer sekelas brand Chicco adalah customer yang detail yang percaya bahwa kualitas dan nama di atas segalanya.  Mereka adalah orang-orang yang sanggup usaha mencari produk mahal bukan semata-mata sedang membutuhkan namun untuk menunjang ke-eksis-annya. Belum lagi dengan persiapan internal sales force yang harus mampu beradaptasi dengan online shopping ini. Dari mulai proses order sampai pengiriman harus benar-benar dicermati.

-          Jika hasil dari 3 bulan penjualan di social media bagus animonya dan review persiapannya, baru lah kita mulai bereksperimen untuk di masuk di e-commerce tetangga, seperti Disdus, Deal Keren, Toko Bagus, dinoMarket.com dan kawan-kawan lainnya, sambil tetap melakukan survey ke customer. Di stage ini, kita bisa negosiasi mengenai program dan harga ke masing-masing pihak.

-          Membuat toko online sendiri yang sangat user friendly, baik secara interface user friendly, good meta tagging, feature user friendly, automatic engagement features,  dan feature yang mendukung social media.  Kalau perlu website nya bisa punya feature tool penjualan chicco buat banyak orang. Product Strategies dan Price Strategies perlu dicermati di sini.  Juga termasuk dengan peraturan-peraturan yang berlaku/sudah dibuat, termasuk perjanjian Chicco dengan distributor Chicco lainnya.

-          Mulai melakukan eksistensi di BTL dan ATL.  Jika tidak memiliki budget, lakukan mix promotion dengan brand yang sekelas.

-          Tidak meninggalkan pemeliharaan jangka panjang digital online strategies Bettermomtoday.  Malah terus dan makin ditingkatkan kegiatannya.

Itu saja dari saya. Ada tanggapan, mari. :)

by Afril Wibisono

Posted in PR 2.0 | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

The Challenges for PR Marketing in ‘The Long Tail’ Business

Afril Wibisono

Have you ever read  a book entitled ‘The Long Tail’ by Chris Anderson? Well, it’s definitely inspiring me, since he said in many parts that currently market forces are changing from old mainstream market (the usually market, not specific, common, ordinary) to a very specific market which are personal, unique, with high-value products or tend to be expensive. The market which often called as niche market sells extraordinary high value sale product and having a very personal touch at a certain level.

Then, which are the hell of products and services that included in this long tail business? As described before, the product mostly are very high value sale product, having very little demand, and its customer have own social classes, or community or self pride. For example, automobiles – Ferrari, motorcycles – Harley Davidson, paintings – Van Gogh, watches – Rolex, etc, which’s not included with other niche products that usually have high multifunctional.  For example, pen has many customers, but when a pen with feature hidden camera and recorder inside, it can be very few customers in there. There are many women chasing for latest fashion clothes, but sophisticated clothes with feature transparent enabling when you’re using on it, it would be specific demand from customers. Conclusion, the long tail is available but not in much presence, and very specific.

The long Tail Market

Well, now after the triumph of the internet in everywhere, the long tail business model become even wider than when there was no Internet at all. With the power of e-commerce patterns which are integrated with each other (eg, with multiple links, the keywords search engines, social media, podcasts, etc.), the long tail market’s increasingly easy – connected with its rare consumer. Moreover, there are greater chances for this business since competitor in the long tail likely would not as bloody as in the mainstream market. In fact, there could be a very few competitors which’s exist. So, what can PR do?

I bet every face of PR professional should be shiny flourish since internet era is on. Why? Because PR job is more challenging. It’s no longer (only) about chasing or down mass media list, and decide which media need to be approached. It’s no longer (only) having a great smile when our release shown at favorite magazine. It’s no longer (only) about proud feeling when seeing our CEO appeared in TV. Nooo ..! PR now should be more than that! PR now supposedly realizes that PR success measurement has changed since internet 2.0 is on. The success should be placed on what your ideal idea in your stakeholder’s mind, especially in your customers mind, which like it or not, customer is the most influenced people who determines your company success. I’m not saying PR is equivalent with sales. PR is not sales. But helping the sales to success, yes. PR is long term because having PR is investment? Well, of course, but doesn’t mean PR cannot be responsible for the unsuccessful products/services selling that has been along with a company year by year.

PR Marketing or Marketing PR (I want to remind it’s only one from other PR functions), has a primary duty helping marketing run into easily understood, clear, and trusted. So if marketing is usually to create ads or promotions in stores, PR is more likely in spinning way. PR is looking for an alternative way from other media to reach the initial goal. Not directly to intent, but just doing some spinning way so consumer would think, “Oo, okay, it’s reasonable..” For example what PR do, join in sponsorship, or even make sponsorship, approach media to release product news, create uniformity for emotional messages in each promotion (as I have discussed for the case Rinso, ‘Berani kotor itu baik’ ),  create offline events for its online community, and so on.

Well, back to the PR role for Long Tail or niche market.  I suggest PR in this business should really understand and care about their consumer’s behavior. What I want to share is, in this business, PR doesn’t need to be worry too much about their relationships with media in regards as a bridge to connect your company to consumers. Because, the fact is, there’s almost no else BRIDGE available between your unique product and consumer (except internet that you can build by yourself). Why? Because your customer is very unique, limited, and basely eager to be active to find what they need.  They’re not like a passive audience who see advertisement in media in some periods then they want to buy. They need more than that. They need trust, reference and second opinion. Your customers very realize that they really need added information about your product in order to gain the trust. And internet 2.0 enables them to look for what they want. The conclusion is, there is only you as a representative of the company and your customers. The key is, PR has to be smart to read the behavior of consumers, with focusing on behavior in web 2.0, for example is what keyword gonna be popular to be claimed by your consumer on search engine (Search Engine Optimization features).

All can be done in the world of web 2.0 for a PR Long Tail. For example, as a PR for a very unique natural dermal filler product for beauty and anti aging, which cost is quite expensive – approximately 5 to 7 million – (Restylane Indonesia), first I must know what exactly the template behavior for my consumer. Since they are upper-class people, there must be a huge possibility for them to join virtual world with their sophisticated gadgets. They may be so not well known about all the advanced technology, but they must have an email account, a member or Facebook or Twitter, engage in chat, read the online media, or at least to dwell briefly on the Google machine. Other else things, they must concern about how to look good, young and beautiful, so they’re very interest with various kind stories about it. I had to summarize the words (keywords) that are not only usual, but also unusual which could be asked by them on google. I should know how to deliver website with features enables them to gain the trust.  I must do many stories and educated information to fill in the content of web. I encourage their opinion in order to gain the trust. I don’t want to sell product, but I want to tell stories which contains answers for their questions. I don’t want to make them stunned only but more to make them believe.  :)

There will be many public relations strategy that ideally do long tail. No exception on the model of the information presented. In the book that I really admire, ‘The New Rules of Marketing & PR’ by David Meerman Scott, said the success in defining information model is what makes a huge chance for PR to show their teeth. :) Here, David explains most salesman or marketing or oldies PR (hopefully we are not like oldies PR), just focus on how to make the information complete, get focus on the design, features, pictures, etc. They usually forget about the essence of why the first time consumers want to know your product or service. Why your product or service are worth to be their choice. What are the reasons? Are there any detailed explanations that support the unique features of your product? If so, what are the benefits? How about the way of your telling to make consumers believe ‘yes, this is what I’m looking for”?  You must make it sure all of this to make consumers not to think after seeing your website, “Ah, just advertising!” Then they’re looking for another product.

Actually, information model could be the next focus attention (especially in long tail business) after we understand what exactly our consumer’s behavior in online world. Consumers certainly do not look for long tail products in magazines or radio or other mass media. Long tail consumers certainly more trusting reference or a trusted colleague to try the product. Long tail consumer is not too fond in complicated performance, but more regards to information that made them believe. Long tail  consumer like Google more than ads in magazines.

Do many breakthroughs in finding strategic keywords for enhancing your SEO capability. Create strategic tags. Be available in in their online media, including frequently answering questions about the needs of this niche. Do not hesitate; add special links for any information needed. The more links to websites or blogs, the more likely they believe any of the products / services. Learn to play the story (not just concern about the brand image). Do not always focus on product information. But focus on what stories about consumers who tune to your long tail. Create communities for your loyal customers. Remember, references are very highly recommended for consumer’s long tail. So creating a community for your consumers is a must. Do not hesitate to work with other brands that have the same level, since they can leverage your potential for expanding your business.

I think that’s all. Any other breakthrough recommendations? Do, please.  :)

Posted by Afril Wibisono

* this article’s available in bahasa indonesia

Posted in PR 2.0 | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tantangan Marketing PR di Bisnis ‘The Long Tail’

Afril Wibisono

Pernah baca bukunya Chris Anderson yang berjudul The Long Tail? Bukunya sangat menggugah saya, karena banyak di beberapa bagian, dia menyebutkan kekuatan pasar yang berubah gaya dari mainstream market (pasar kebanyakan, tidak spesifik, umum, biasa) menjadi pasar yang sangat spesifik, personal, unik, atau menjual produk yang bernilai sangat tinggi atau cenderung mahal. Pasar niche adalah sebutannya. Sebuah pasar yang menjual produk-produk niche yang bernilai jual tinggi, dan buat yang memilikinya menjadikan kekuatan personal pada level tertentu.

The Long Tail

Lalu kira-kira apa saja sih produk dan jasa yang masuk dalam wilayah the long tail? Biasanya yang tidak terjangkau harganya, sangat sedikit peminatnya, dan ada kelas tersendiri untuk orang-orang yang memiliki produk long tail. Contohnya, mobil – Ferrari, motor – Harley Davidson, lukisan – Van Gogh, jam tangan – Rolex, etcetera.  Belum termasuk dengan produk-produk yang memiliki multifungsi tinggi, misalnya peminat pulpen banyak, tapi peminat pulpen dengan kamera tersembunyi dan recorder di dalamnya bisa jadi sangat sedikit tapi ada.  Peminat baju dengan fashion terbaru pasti sangat banyak, tapi baju yang modelnya gak kalah canggih, tapi kalau dipakai bisa membuat si pemakai jadi hilang tidak terlihat pasti peminatnya sangat sedikit, tapi kemungkinan ada. The long tail, ada tapi tidak banyak, ada tapi harus sangat spesifik.

Nah, model bisnis the long tail ini, dengan kejayaan internet seperti sekarang, peluangnya jadi lebih lebar daripada sewaktu belum ada internet, atau ketika internet masih maju mundur.  Dengan pola kekuatan e-commerce yang terintegrasi satu dengan lainnya (misalnya, dengan multi link, keywords search engine, social media, podcast, dll), the long tail market makin dimudahkan terkoneksi dengan si konsumen yang nyaris tidak ada ini.  Apalagi, peluangnya semakin besar, karena kompetitor di the long tail cenderung pasti tidak berdarah-darah seperti yang ada di mainstream market. Kompetitornya sangat sedikit bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali. Lalu apa yang bisa PR lakukan?

Wajah PR sejak kejayaan internet seharusnya ikutan berseri-seri. Kenapa? Karena pekerjaannya semakin menantang.  Bukan lagi mengejar atau men-down list media-media apa saja yang harus didekati. Bukan lagi bahagia jika liputannya dimuat di majalah kesayangannya. Bukan lagi bahagia kalau CEO nya masuk televisi.  Nooo ..! PR sekarang seharusnya menyadari pengukurannya kebahagiaannya berubah sejak internet 2.0 berjaya.  Pengukuran kebahagiaannya adalah stakeholder mind, terutama customer mind, si pemegang berhasil tidaknya perusahaan bisa menjual produk atau jasanya.  Saya gak bilang PR itu sales. Memang bukan sales. Tapi si pembuat kesuksesan sales, iya. Tapi PR kan  jalannya panjang, karena PR investasi? Lho memang iya, PR itu long term tapi bukan berarti bisa berkelit ketika ditunjuk bertanggung jawab atas ketidaksuksesan perusahaan menjual produk atau jasanya selama beberapa tahun berturut-turut.

PR Marketing atau Marketing PR (sekaligus mau mengingatkan fungsi PR banyak selain mengurusi marketing), memiliki tugas utama membantu marketing yang dijalankan perusahaan menjadi mudah dipahami, dimengerti, dan dipercaya konsumen untuk produk atau jasanya dibeli.  Jadi kalau marketing biasanya membuat iklan atau promosi di toko-toko misalnya, PR cenderung agak mbulet jalannya. :)   Dia cari alternatif kiri lewat media lain yang nyaris agak melenceng sedikit dari tujuan awal.  Tidak langsung ke maksud, tapi muter sedikit baru si konsumen berfikir, “Oo, benar juga ya..” Contohnya, ikutan dalam sponsorship, atau malah bikin sponsorship. Mendekati media untuk dirilis beritanya.  Membuat keseragaman pesan yang emosional di setiap promosinya (seperti yang pernah saya bahas untuk kasus Rinso, ‘Berani Kotor itu Baik’). Membuat offline event untuk komunitas online-nya. Dan lain sebagainya.

Nah, balik lagi ke PR untuk bisnis Long Tail market atau niche market, sebaiknya PR harus benar-benar mengerti konsumennya itu siapa. Kesampingkan semua hal-hal yang menjadi jembatan antara perusahaan dengan konsumen. Karena di bisnis ini, ‘hampir’ tidak ada JEMBATAN-nya (selain internet yang bisa Anda bangun sendiri) . Yang ada, hanya Anda sebagai wakil perusahaan dan konsumen Anda.  Mengapa? Sebab consumer Anda sangat unik, terbatas, dan pada dasarnya bersedia proaktif mencari produk apa yang mereka butuhkan.  Mereka bukan model audiens pasif yang hanya puas menerima puluhan kali iklan yang sama di media, lalu mereka putuskan untuk membeli.  Mereka butuh lebih dari itu. Mereka butuh kepercayaan bahwa yang mereka beli benar (ya iyalah, barang mahal.. :) ), opini dan referensi. Konsumen Anda sangat sadar bahwa mereka perlu mencari sendiri informasi tentang produk Anda untuk memperoleh kepercayaan itu. And internet 2.0 enables them to look for what they want. Maka kesimpulannya,  PR di bisnis ini harus pintar membaca behavior si konsumennya. Salah satunya di dalam dunia web 2.0, adalah perilaku keyword di SEO-nya (Search Engine Optimization).

Semua bisa dilakukan di dunia web 2.0 untuk seorang PR Long Tail. Misalnya, saya sebagai seorang PR produk dermal filler natural untuk kecantikan dan anti aging (restylane indonesia), yang biayanya lumayan tinggi untuk sekali konsumsi (tergantung netto-nya), sekitar 5 sampai dengan 7 juta.  Sebelumnya, saya harus mengetahui dulu, kira-kira bagaimana template perilaku konsumer saya. Karena konsumen saya adalah orang kelas atas , ada kemungkinan yang sangat besar mereka sering nyebur ke dunia maya dengan gadget-gadget canggihnya.  Mereka mungkin bisa jadi gak semua mahir teknologi, tapi mereka pasti punya account email, anggota facebook or twitter, terlibat di chatting, baca media online, atau paling tidak berkutat sebentar di mesin google. Nah, apa yang menjadi concern mereka untuk menambah kemahiran mereka berpenampilan dan tampak awet muda di dunia maya, itu yang harus saya cari.  Saya harus merangkum kata-kata (keywords) yang bukan saja biasa tapi bisa jadi ditanya oleh mereka di google.  Saya harus paham kira-kira setelah mendapatkan website yang ada informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, mereka butuh informasi apa lagi.  Model informasi apa yang harus saya suguhkan sebagai PR (bukan sebagai sales ya!) untuk membuat mereka percaya dan bukan hanya terkesima. (Ini yang penting, bukan hanya terkesima. Catet :) )

Akan banyak strategi yang idealnya PR long tail lakukan. Tidak terkecuali tentang model informasi yang disuguhkan.  Di buku yang sudah saya kagumi habis, dengan judul The New Rules of Marketing & PR karya David Meerman Scott, mengatakan model informasi inilah yang membuat peluang PR unjuk gigi semakin besar.  Di sini, David menjelaskan kebanyakan salesman atau para marketing atau PR zaman dulu (mudah-mudahan kita bukan yang menjadi bagian dari PR zaman dulu :) ), hanya fokus tentang bagaimana membuat informasi lengkap, heboh dengan desain sana sini, lengkap fitur dan gambarnya dan lain sebagainya tapi lupa tentang esensi pertama kali kenapa si konsumen mau tahu produk atau servis Anda. Kenapa produk atau servis Anda yang menjadi pilihanya. Apa alasannya? Adakah penjelasan-penjelasan yang rinci yang mendukung fitur unik produk Anda? Kalau ada, apa manfaatnya?  Bagaimana cara menceritakannya supaya mengoyak perasaan konsumen untuk mempercayai itu benar? Atau akhirnya, si konsumen berpikir setelah melihat website Anda, “Ah, cuma iklan!” Lalu dia mencari produk lain. :(

Sebenarnya bentuk atau model informasi bisa menjadi atensi berikutnya (khusus di bisnis long tail) setelah kita mengetahui dengan pasti behavior konsumer kita di dunia online. Konsumen long tail pasti tidak mencari produknya di majalah atau radio yang kelas massanya masih banyak. Konsumen long tail pasti lebih banyak mempercayai referensi koleganya atau orang kepercayaannya untuk mencoba produk. Konsumer long tail tidak terlalu menyukai werno-werno, tapi informasi yang membuatnya percaya. Konsumer long tail lebih menyukai mbah google daripada iklan di majalah.

Banyaklah bermain dengan keyword SEO. Buat tag-tag yang strategis. Banyaklah aktif di media-media online mereka. Termasuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kebutuhan niche ini. Jangan segan, menambah link-link khusus untuk setiap informasi yang dibutuhkan. Semakin banyak link ke website atau blog, semakin besar peluang percaya mereka atas produk/servis anda. Belajar untuk bermain cerita (bukan melulu citra). Jangan selalu  memfokuskan informasi pada produk. Tapi fokus pada cerita apa kira-kira yang digemari konsumen long tail Anda. Ciptakan komunitas untuk pelanggan setia Anda. Ingat, referensi teman sangat dipercaya konsumen long tail. Jadi menciptakan komunitas untuk konsumen Anda, adalah harga mati. Jangan segan bekerja sama dengan brand yang memiliki levelitas yang sama. Karena ini potensi melebarkan sayap bisnis Anda.

Kira-kira demikian. Ada lagi tambahan? Silakan. :)

Posted by Afril Wibisono

*artikel ini tersedia dalam bahasa inggris

Posted in PR 2.0 | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

What does STRATEGY mean exactly?

What a surprise, recently I just realized there are many colleagues of mine still do not understand what exactly strategy is, whether it’s PR strategy nor marketing strategy. The fact is, they hold management level position, but when they’re told to make their marketing strategy , well from my side, it’s not fully describe the strategy but only regarding to activities that they make in one year. So what is wrong with that?

Okay, we start from the definition of strategy. What is the strategy? Or I better reverse my question, with no strategy what could be happen? If we run marketing activities without a defined strategy for example, I’m pretty sure that all marketing activities will be filled with what we want impromptu that time, or who our boss want impromptu this time, or in short, frequently happen impromptu reactive which influence to every marketing activity. So everything seems instant, not deep in thought and consideration, wasting, and not integrated with one another. Ever feel that way? If so, then you’re just like my colleagues thou.  :)

The strategy is a conscious plan that has clear and purposively goals. Usually for short term, it’s made for one year. By strategy, we have a TEMPLATE for a detailed road or a way to have clear objectives that agreed by every involved parties. By strategy, we can know what PATTERNS we use to achieve that goal. With a strategy, our perspective to view all impacts that caused by our strategy will be built and formed well. So it has been imagined in advance, if my strategy will be this way, I will got my advantages, disadvantages how, and what kind of reaction will happen next.

In setting the strategy, we need to analyze situation first or often called Situation ANALYSIS. Hence,  the manager will do cross check the information about the product or brand or company, such as how many percent growth last year, what infrastructures does company have, how its competitors, how is the market, is there any innovations they got , what about government regulations, etc.  It’s recommended to use SWOT ANALYSIS for summarizing the situation analysis.

After the analysis, then we determine what the objectivity. What is objectivity? Objectivity is a clear goal and when do we want to achieve. For example; reach a significant growth of 30% until the end of 2011. Or another example; strengthens the existence of post-sales service with 100 service outlets in Jakarta, Semarang, Surabaya and Bandung, as of the end of the year.

Well how do I get there? It’s called strategy. For example, the strategies for first objectivity are; selling upscale products, open new distribution network, making promotion tool key messages, images and designs are persuasive, and add a sales team that dares to be fast, responsive and smart. As for the objectivity of the second, the strategies are to determine the appropriate market areas, human resource development and infrastructure and ensure all promotion tool looks clear and fit with company brand.

Now we’ve got strategies. The next question is how to work it out. That’s called tactics. Tactics are the techniques to apply the strategy into reality. Okay, the strategy focuses on upscale product will bear the following best tactics: I will do more detailed product range and separate those who fall into the category of hi class product, I will also make the hi class product knowledge is more comprehensive than others, for example, his booklet is thicker, more exclusive and etc, I will make outstanding POP, display systems more exposed and etc; I will also use the clearance sale program at the end of the year, as well as compliment getting 12 months edition free magazines from my brand partner only for my buyers.

Objectivity done, strategies done, tactics done. Next is the budget. Well no need to mention, this stage is the most complexions of other previous stage. But actually it still can be done easily, by crossing check last year budget than we can add some percentage of inflation for this year. Or if the  program are quite brand new, we can cross check to the purchasing division, or external agencies that hold the same program. All can be done anyway, if there is a will. Now time to set schedule. Setting the schedule is important because it will help us to make the strategies easily realized.

Well, in short, strategies should be SMART (Specific Measurable Attainable Realistic timely). Strategy helps the managers stay on the right path to run activities for a certain period. The strategy also could be a powerful tool for those who suddenly appeared with impromptu programs that are frequently not relevant to the existing applied strategy.

So, get set for your strategy now! :)

Posted by Afril Wibisono

Posted in PR 2.0 | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Menyusun Strategi, Pentingkah untuk Benar?

Afril Wibisono

Percaya atau tidak, baru-baru ini saya menyadari ternyata masih ada beberapa kolega saya yang tidak mengerti benar-benar apa itu strategi, entah itu strategi PR  atau strategi marketing. Mereka menduduki posisi manajemen, tapi ketika disuruh membuat strategi marketing yang mereka jabarkan bukan sepenuhnya strategi tapi hanya aktivitas-aktivitas yang mereka buat dalam timetable selama satu tahun.  Lalu apa yang salah?

Oke, kita mulai dari definisi strategi. Apa sih strategi? Atau kalau misalnya saya balik, tanpa strategi apa jadinya? Jika marketing tanpa strategi misalnya, maka akan dipastikan seluruh aktivitas marketing diisi dengan apa yang sedang kita inginkan, atau yang sedang bos kita inginkan, atau  terjadi reaktif-reaktif dadakan yang mewarnai setiap aktivitas marketing.  Jadinya, semuanya kelihatan instan, tidak terpikirkan sebelumnya, wasting, dan tidak terintegrasi satu sama lain. Pernah merasakan?  Kalau pernah, berarti Anda masih seperti kolega-kolega saya itu. :)

Strategi adalah perencanaan sadar yang memiliki tujuan jelas. Biasanya paling pendek, dibuat untuk satu tahun.  Dengan strategi, kita punya TEMPLATE jalan atau cara yang mendetail untuk tujuan yang jelas dan sudah disepakati bersama.  Dengan strategi, kita bisa tau pola apa yang kita pakai untuk mencapai tujuan. Dengan strategi yang dibangun, perspektif kita sebagai bagian yang akan menjalankan strategi juga menjadi jelas dalam memandang dunia luar yang akan bereaksi dengan rancangan strategi kita. Jadi sudah dibayangkan jauh-jauh hari, kalau strategi saya begini keuntungannya apa, kerugiannya bagaimana, reaksinya seperti apa.

Dalam menyusun strategi, kita perlu melihat situasi dulu, atau sering disebut SITUATION ANALYSIS.  Di sini, manager akan melakukan cross check informasi tentang produk atau brand atau perusahaan yang dibidaninya, seperti misalnya berapa persen pertumbuhannya tahun lalu, apa saja infrastruktur yang dimiliki, apa kekuatannya, bagaimana kompetitornya, apa saja inovasi produknya, peraturan pemerintah sekarang mendukung tidak, dan lain sebagainya. Situation analysis ini baiknya kita bagi menurut cara SWOT ANALYSIS.

Setelah analysis, baru kita tentukan apa objektivitas nya. Apa sih objektivitas? Objektivitas adalah tujuan yang jelas dan kapan hendak dicapai. Misalnya, menambah pertumbuhan signifikan sebesar 30% sampai dengan akhir tahun 2011.  Atau contoh lain, memperkuat eksistensi pasca sales service dengan 100 outlet servis di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung per akhir tahun.

Nah bagaimana cara mencapainya? Itu yang dinamakan strategi. Strategi pertama untuk objektivitas pertama adalah memfokuskan penjualan produk kelas atas, membuka jaringan distribusi baru, membuat promotion tool key message, gambar dan desain yang persuasive,  dan menambah jajaran sales force yang cepat, tanggap dan smart.  Sementara untuk objektivitas kedua, strateginya adalah menentukan area pasar yang tepat, pengembangan sumber daya manusia dan infraksuktur dan memastikan semua promotion tool terlihat clear dan sesuai dengan brand perusahaan.

Sekarang kita sudah punya strategi. Tinggal bagaimana nih cara menerapkannya. Itu yang dinamakan taktik. Taktik adalah cara atau jalan mengaplikasikan strategi menjadi nyata.  Oke, strategi memfokuskan penjualan produk kelas atas akan melahirkan taktik-taktik yang menurut saya akan terbaik jika diaplikasikan diantaranya sebagai berikut; saya akan melakukan range product lebih rinci dan memisahkan mereka yang masuk dalam kategori hi class product; saya juga akan membuat product knowledge produk hi class lebih komprehensif dibanding lainnya, misalnya booklet nya lebih tebal, lebih ekslusif dan lain sebagainya, POP-nya kreatif, displaynya ter-ekspos dan lain sebagainya; saya juga akan menggunakan program clearance sale di akhir tahun; belum lagi dengan compliment untuk setiap pembeli yakni mendapatkan majalah gratis dari partner brand saya selama 12 bulan.

Objektivitas sudah, strategi sudah, taktik sudah. Oke tinggal menentukan budget. Hal yang paling jelimet dibanding stage-stage sebelumnya. Tapi sebenarnya tidak terlalu masalah, karena budget bisa kita cross check dari budget tahun lalu yang ditambahkan persentase inflasi untuk tahun ini. Atau jika program atau taktiknya baru, kita bisa cross check ke bagian purchasing perusahaan, atau agensi-agensi yang mengadakan event yang sama. Semua bisa dilakukan kok, yang penting usaha.  Kalau budget beres, tinggal tentukan timetable strategi anda. Maunya kapan akan sangat penting ditentukan ketika membuat strategi sehingga mudah terealisasi. Kan harus SMART .. (Specific Measurable Attainable Realistic Timely:)

Sekarang bagaimana? Sudah mulai terbayang? Strategi inilah yang bisa membuat kita para manager tetap berada di jalan yang benar selama periode tertentu. Strategi  yang kuat juga bisa menjadi alat penggusur buat orang-orang yang tiba-tiba muncul dengan program dadakan yang sering tidak relevansi dengan strategi yang ada dan jauh-jauh disusun dan diaplikasikan.

Selamat berstrategi! :)

Posted by Afril Wibisono

Posted in Communication Studies, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

IMC, and How to Measure The Success

Afril Wibisono

Do you believe, if a marketing program that was born without a good communication strategy will be selling a discordant empty package? Communication that packed into a marketing program’s core messages to be conveyed must be completely prepared well. The message effectively born from the consideration of identity, categorization and positioning of products or services that want sold to consumers.

Trivial example, Rinso of Unilever’s marketing strategy that carries the tagline ‘Got Dirty is Good’ (Berani Kotor itu Baik in Indonesia Language). The significance of this tagline, Rinso which is one leader brand of laundry soap is almost the same advantages with dozens of similar brand of laundry soap came up with the creative idea of communication,  “Got Dirty is Good’. The core of this message is to invite the mothers to support their children creative activities, foremost their activities with directly contact to  dirt. Because if they got dirty, there is a learning experience that can be taken positive for children, and to overcome the dirty let Rinso handle it. Tagline ‘Got Dirty is Good’ can also be categorized as a provocative persuasive tagline.

Since carrying the message ‘Got Dirty is Good’ Rinso has been seen as an outstanding laundry soap from other brand mostly. ‘Got Dirty is Good’ is also affecting his Rinso’ color ‘marketing programs, including ATL, BTL, and its public relations activities.

If the role of communication strategy is ingrained in an ongoing marketing program for a certain period like Rinso example above, then that is what is called Integrated Marketing Communication (IMC). The focus of IMC must involve his audience what he wanted to go, whatever channel it is used and what result to be achieved (Estaswara, 2008).

‘A concept of marketing communications plan that shows the value added of a comprehensive plan that evaluates the strategic roles of the various disciplines of communication, such as general advertising, direct response, sales promotion and public relations and combine these disciplines to create a clear communication impact, consistent and maximal. ‘(Integrated Marketing Communication Definition – Schutz (2003)).

Then how to measure the effectiveness of IMC? IMC effectiveness is very important especially for the management since in the process of IMC it costs not less. Effectiveness of IMC can be seen from the business outcomes (1) and communication outcomes (2).

Business outcomes seen through the process of consumer valuations in the market that have been identified based on estimates of consumer investment (ROCI – Customer Return on Investment). Estimated financial or business outcomes prediction is then verified and evaluated on several points over time to see the effectiveness of IMC programs. ROCI often equated with the percentage of customer loyalty that do a re-calculation of continuous consumption or buying the product from the customer.

ROCI is the calculation of the financial results of the IMC program that focuses on customer loyalty. ROCI can be calculated based on the continuous buying by customers based on the method of customer profitability and sales growth. So for example, like the example above Rinso which its business outcomes is 8 out of 10 of the Indonesian capital use Rinso. Of the eight Indonesian mothers, we calculate  the target customers profit and expected sales growth which ultimately reflects the continuous pattern of buying customers. Continuous buying patterns could indicate customer loyalty due to see IMC Rinso which create an attitude to continue buying Rinso. Because in last eight Indonesian mothers perception, Rinso is the one and only laundry soap that support children’s creativity (though perhaps many other brands of laundry soap whose quality is less good than Rinso).

That ROCI which is the category of tangible business outcomes. Then there are the so-called communication intangible outcomes, through measurement of brand equity. Brand Equity is basically to know how good is your brand performance. The bottom line is customer impact and related assets (Reid, Luxton, Mavodo, 2005). Brand Equity basically involves measurement of the changes in consciousness (awareness) of customers, customer associations, customer attitudes, feelings customer and the customer experience. For  easy measurement benchmark, if we already have a community for customers of our products, we can conduct customer surveys to measure the elements above.

Well, now ready to calculate your IMC’s success?

Posted by Afril Wibisono

Posted in PR 2.0 | Tagged , , , , , , , , , , | 4 Comments

IMC, dan Bagaimana Mengukur Keberhasilannya

Afril Wibisono

Percayakah Anda, jika sebuah program marketing yang lahir tanpa strategi komunikasi baik akan menjadi jualan pepesan kosong yang sumbang? Komunikasi yang dikemas menjadi pesan inti sebuah program marketing yang ingin disampaikan harus benar-benar dipersiapkan sebaik-baiknya. Pesan yang efektif lahir dari pertimbangan atas jati diri, kategorisasi dan positioning produk atau servis yang ingin dijajakan ke konsumen.

Contoh gampangnya, strategi pemasaran Rinso dari Unilever yang mengusung tagline ‘Berani kotor itu Baik’.  Makna dari tagline ini, Rinso yang merupakan satu merek sabun cuci baju yang hampir sama kelebihannya dengan puluhan merek sabun cuci sejenis muncul dengan ide komunikasi berbeda, ‘Berani Kotor itu Baik’.  Inti dari pesan ini adalah mengajak para ibu untuk mendukung kreativitas sang anak, termasuk beraktivitas yang banyak bersinggungan dengan kotoran.  Karena jika sudah kotor, ada pengalaman belajar yang bisa diambil positif untuk anak, dan untuk masalah kotornya serahkan pada Rinso.  Tagline ‘Berani Kotor itu Baik’  juga bisa dikategorikan tagline yang provokatif karena sifatnya motivational persuasive.

Karena gara-gara mengusung pesan ‘Berani Kotor itu Baik” Rinso menjadi terlihat outstanding dari merek sabun cuci baju kebanyakan.  ‘Berani Kotor itu Baik” nya Rinso ini juga mempengaruhi ‘warna’ program marketingnya termasuk ATL, BTL, dan public relations activities-nya.

Jika peran strategi komunikasi sudah mendarah daging dalam program marketing  yang berkesinambungan untuk jangka waktu tertentu seperti contoh Rinso di atas, maka itulah yang disebut Integrated Marketing Communication (IMC). Fokus IMC haruslah melibatkan audience-nya apa yang ingin dituju, channel- nya apa saja yang dipakai dan result apa yang ingin dicapai (Estaswara, 2008).

‘Sebuah konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang menunjukkan nilai tambah dari suatu rencana yang komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai macam disiplin komunikasi, seperti general advertising, direct response, sales promotion, serta public relations dan mengombinasikan berbagai disiplin ini guna menciptakan dampak komunikasi secara jelas, konsisten dan maksimal.’ (Integrated Marketing Communication Definition – Schutz (2003)).

Lalu bagaimana mengukur efektivitas IMC? Efektivitas IMC ini sangat penting terutama bagi manajemen karena dalam prosesnya IMC banyak menguras biaya yang tidak sedikit.  Efektifitas IMC  bisa dilihat dari business outcomes (1) dan communication outcomes (2).

Business outcomes dilihat melalui proses valuasi konsumen dalam pasar yang telah diidentifikasi berdasarkan estimasi terhadap investasi konsumen (ROCI – Return on Customer Investment).  Estimasi financial atau business outcomes prediction tersebut kemudian diverifikasi dan dievaluasi atas beberapa point sepanjang waktu untuk melihat efektivitas program IMC.  ROCI seringkali disamakan dengan persentase loyalitas customer yang melakukan re-consumption atau kalkulasi continuous buying atas produk dari customer.

ROCI merupakan kalkulasi dari hasil financial atas program IMC yang berfokus pada loyalitas pelanggan.  ROCI dapat dihitung berdasarkan continuous buying yang dilakukan oleh pelanggan berdasarkan metode customer profit dan sales growth. Jadi misalnya, seperti contoh Rinso di atas. Misalnya, business outcomes nya adalah 8 dari 10 dari ibu Indonesia menggunakan Rinso. Dari kedelapan ibu Indonesia ditargetkan berapa customer profit dan sales growth yang diharapkan, yang ujung-ujungnya merefleksikan  pola continuous buying customer.  Pola continuous buying ini yang bisa menunjukan loyalitas customer akibat melihat IMC Rinso yang dilanjutkan menjadi attitude customer untuk membeli dan terus membeli Rinso. Karena bagi kedelapan ibu Indonesia tadi, Rinso adalah satu-satunya sabun cuci yang mendukung kreativitas anak-anaknya (walaupun mungkin banyak sabun cuci merek lain yang kualitasnya tidak kalah bagus daripada Rinso).

Itu ROCI yang merupakan kategori business outcomes yang TANGIBLE.  Lalu ada juga yang disebut communication outcomes yang INTANGIBLE, melalui pengukuran brand equity.  Brand Equity pada dasarnya adalah ukuran untuk mengetahui brand performance.  Intinya adalah customer impact dan asset related (Reid, Luxton, Mavodo, 2005).  Brand Equity pada dasarnya meliputi pengukuran atas perubahan kesadaran (awareness) pelanggan, asosiasi pelanggan, sikap pelanggan, perasaan pelanggan dan pengalaman pelanggan.  Buat mudahnya, jika kita sudah punya komunitas untuk pelanggan atas produk kita, kita bisa melakukan survey pelanggan untuk mengukur elemen-elemen di atas.

Nah, sekarang sudah siap menghitung kesuksesan IMC Anda? :)

Posted by Afril Wibisono

Posted in Communication Studies | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Internal Communication Tool Apalagi yang Saya Pakai?

Afril Wibisono

Tahun lalu, di tempat saya bekerja, saya banyak diberikan porsi pekerjaan dengan fokus internal communication program. Tujuannya standar. Agar komunikasi antar perusahaan (kebetulan saya berada di posisi holding) selaras dan bekerja dua arah timbal balik antara top management dengan karyawan sehingga visi perusahaan tercapai. Standar tapi sempat membuat pusing. Saya ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bukan lagi menggunakan newsletter, email atau intranet. Sesuatu yang berkreasi tinggi.

Berbagai ide pun melayang. Mulai dari bentuk yang berbeda, atau bentuk yang sama tapi konsep yang berbeda.  Tujuan saya persempit. Saya ingin mempersonalkan CEO lebih dekat lagi dengan karyawannya.  Saya ingin merepositioning personal branding CEO lebih ramah dan popular. Jika ini bisa terjadi harapannya efek persuasi untuk sama-sama memajukan perusahaan lebih mudah disampaikan dan diikuti oleh semua karyawan.

Walaupun tidak semua program saya disetujui, saya ingin berbagi kumpulan ide-ide kreatif internal communication tool yang bisa jadi pertimbangan ‘breakthrough’ Anda agar tidak melulu itu-itu saja.

Saya mau ada pernyataan-pernyataan CEO yang dipersonalkan dalam bahasanya sendiri, yang menggambarkan perasaannya, harapannya sekaligus keinginannya secara pribadi, bisa direncanakan bisa spontan (jika kebetulan ada kejadian mendadak yang harus ditindaklanjuti) kepada seluruh karyawannya.  Saya ingin CEO terlibat langsung dalam kegiatan karyawan yang tidak disangka-sangka sehingga karyawan bisa lebih berapresiasi pada CEO-nya. Saya juga ingin ada kejutan-kejutan kecil yang bertema penghargaan pada karyawan di waktu yang tidak terduga.

Saya tidak melupakan dunia penyiaran. Tentu saja semua program CEO saya ini harus disiarkan. Dan saya ingin bentuk publikasi yang berbeda. Paling tidak, jika packaging tidak banyak berubah, konsep dan konten pesan harus berubah.  Saya ingin memancing perhatian. Dan menanamkan perhatian.

Saya harus membuat berbagai bentuk poster. Poster pun saya tempatkan di tempat-tempat yang strategis. Seperti di dalam lift, pintu masuk kantor, dan ruang meeting.  Saya akan menggunakan bahasa provokatif. Saya juga akan menggunakan kata sapa pertama, yakni ‘Saya’ dan ‘Anda’. Tujuannya satu. Supaya lebih mengena, mengajak dan mempengaruhi.  Saya mau menggunakan media email blast untuk bentuk penyiaran  lain, dengan nama CEO Channel. CEO Channel selalu hadir dengan karikatur CEO yang ramah, tersenyum, dan low profile.  Gaya bahasanya pun ringan, mengajak dan mengayomi. CEO Channel akan hadir setiap ada gundah gulana sang CEO yang melanda, atau bisa juga pikiran-pikiran  CEO yang ingin disampaikan kepada setiap karyawannya.  Dan ini termasuk dengan liputan soal kegiatan CEO yang tidak disangka-sangka hadir dalam kegiatan karyawan.  Hal ini agar image kebersamaan CEO dengan karyawan bisa diangkat.

Selain itu, saya akan banyak bermain di TV LCD yang rencananya akan ditempatkan di lobby lift. Saya akan gunakan waktu 45 detik saya untuk menyiarkan saat CEO datang memberikan mug apresiasi berjudul “Thanks God You’re Here!” kepada setiap karyawan yang dianggap berjasa memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan.  Di siaran TV itu, saya akan memberikan seklumit informasi tentang karyawan yang dimaksud, mengenai alasan kenapa dia menerima mug apresiasi.  Tujuannya sih, agar hal ini dapat memunculkan sikap belonging perusahaan yang lebih tinggi dan memacu yang lain bekerja lebih baik lagi.

Untuk menguatkan visi misi dan nilai perusahaan di benak setiap karyawan, saya juga akan banyak melakukan kegiatan internal untuk karyawan. Bentuknya bukan sekedar gathering, tapi gathering yang melibatkan seluruh karyawan dengan konten acara menguatkan visi perusahaan. Saya juga akan banyak menggunakan informal momentum event.  Seperti pada saat valentine day, saya akan memberikan bunga  atau coklat ke karyawan. Atau saat tidak ada apa-apa yang harus dirayakan, di meja karyawan pagi-pagi sekali saya akan menaruh mug warna warni dengan kata sapa, “Hi Gorgeous!” beserta lambang-lambang visi dan values perusahaan.

Lagi-lagi untuk menggalang rasa memiliki kepada perusahaan, saya juga akan membuat buku tentang perusahaan di waktu dulu dan sekarang dari perspektif CEO dan top management lainnya.  Ada cerita-cerita lain tentang perusahaan yang sebelumnya tidak dipublikasikan menjadi ditulis dengan gaya bahasa yang personal. Ada pengalaman yang menghenyakkan, sekaligus selipan cerita lucu dibaliknya. Akhir tahun saat bukunya sudah jadi, saya akan bagikan buku tersebut di setiap divisi dan akan dibagi untuk setiap karyawan baru masuk level supervisor keatas .

Kira-kira itu saja. Bagaimana, ada masukan untuk ide breakthrough lain? :)

Posted by Afril Wibisono

Posted in Communication Studies, Mensa Group | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

Bagaimana Anda Mengukur Sukses Tidaknya Program PR Anda?

Afril Wibisono

Sebenarnya, mengukur sukses tidaknya kampanye atau program PR kita berdasarkan kinerja penjualan perusahaan bukanlah cara yang tepat. PR tidak bekerja seperti itu. PR adalah investasi jangka panjang dan bila dilakukan dengan benar, akan meningkatkan kesadaran produk, jasa, atau keahlian, untuk audiens target Anda. Dan ini tidak ditandai dengan meroketnya penjualan dalam waktu yang singkat. Efek PR abstrak, ada tapi tidak bisa dihitung. Dirasakan tapi seringkali tidak terlihat.

Mari kita lihat satu contoh. Katakanlah kita ingin mempublikasikan fitur modern produk kita di majalah popular. Kita mungkin perlu PR handal untuk tahu bagaimana mendapatkan publikasi terbaik di majalah popular yang tepat, tetapi kita tidak membayar majalah itu untuk fitur kita dalam halaman-halamannya karena segala publikasi yang dilakukan PR adalah hampir gratis (tidak semahal iklan). Tetapi bagaimana jika kita beriklan? Berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk publikasi yang sama dengan bentuk iklan?

Iklan belum tentu berefek positif seperti yang kita harapkan. Iklan cenderung memiliki barrier kredibilitas audiens karena iklan dikenal sebagai komunikasi yang berasal 100% dari produsen. Kecenderungan untuk tidak percaya 100% pada iklan pasti ada di setiap audiens. Berbeda dengan berita publikasi. Di sana, ada tingkat objektivitas media yang menyaring konten berita. Ada kredibilitas lebih yang disampaikan untuk audiens. Efek abstrak inilah yang kerap muncul untuk publikasi PR yang baik. Sebagai informasi, kredibilitas publikasi bernilai 3 sampai dengan 10 kali dari iklan.

Jadi apa kesimpulannya? PR tidak secara langsung berdampak pada peningkatan penjualan atau keuntungan. PR itu abstrak. Dia ada untuk meningkatkan kredibilitas produk kita. Dia ada untuk meningkatkan awareness, kemudahan akses word of mouth yang menggabungkan diri sebagai komplimen yang dibutuhkan dalam program marketing kita. Dia ada untuk tingkat kesuksesan bisnis selanjutnya.

Jadi, apakah masih berpikir untuk mengkesampingkan PR dalam perangkat kesuksesan program marketing Anda?

posted by Afril Wibisono

Posted in Communication Studies, PR 2.0 | Tagged , , , , , , , | 8 Comments