Archive for April, 2009
Chicco, Top Brand Kids Award from Frontier
Lately, Chicco Indonesia’s awarded as a Top Brand for Kids Award from famous independent marketing & research consultant FRONTIER.
Chicco, a world class brand of baby products maintained by Mensa Bina Sukses (MBS), a member of Mensa Group, has won the 2009 top brand award of baby trolley and baby dining set.
Of course, this remarkable achievement has high value for us, considering the 500 people survey handled by Frontier known as her high validity and reliability.
The sustainability effort and high dedication through excellent marketing and communication which maintained by years with strategic planning, has finally found the result.
So, this time, I, as Corporate Communication Head of Mensa Group, would like to say congrats for all our effort to make Chicco’s really worthy to be the leading brand name for Indonesia’s mother! Great job!
1 comment April 25, 2009
Ibu dan Facebook
Salah satu efek Web 2.0, ibu rumah tangga aja ikutan maen facebook. sampai sang anak, yang diwakilkan oleh Serafina Ophelia komplen dalam puisinya. Lucu isinya, boleh ditengok di bawah ini.
2 comments April 22, 2009
Theme Song for Menjangan Sakti
Something different in 34th anniversary of Menjangan Sakti that launched late days . This time, it was
merrier with theme song competition among divisions. And it’s awesome to see that everybody looked very serious in preparation to win the competition. All songs were good! All employees seem born to be singers. And even the winner already result, thanks to export division, but the best thing is everybody happy and company also happy.
Taking place in Desa Gumati Sentul, the event’s participated with all element of Menjangan Sakti, with major programs doorprize giving, games and theme song competition. Even, I and the team which conclude as Corporate Division, was very confidence can win the competition. But the fact was wrong. Because everybody is really good with their own song and arrangement. Considering people of Menjangan Sakti is very individualist as I know before change management come (thanks to Mr. Sukiman – the ass managing director of Menjangan Sakti), I was quitely surprise when I saw the teamwork each division in that day.
I believe, if this atmosphere can stand forever, Menjangan Sakti will be as mighty as the company name sound. Voila!
Add comment April 19, 2009
Breaking News in Mensa Award 2008
Mensa Award 2008, the most prestigious event in Mensa Group .. which contributes to those who work hard, professional, and give an excellent achievement..

Add comment April 5, 2009
Google Brain
Do enjoy! this is one of best shots which describe the future thriller in web 4.0, which extremmly features the semantic power from online media.. What a great future.. can hardly wait!
1 comment April 4, 2009
Sarah Azhari, 3 Thumbs Up!
Something shocked me last days! Based on fact that I found lately, Sarah azhari, one of the most tempting sexual dreaming Indonesian woman for some guys, gets no.1 rank in word searching based on Google search! She’s totally beat everything that typed in Google search, include people, popular word, food, cities, ..everything! WOW !! I think she deserves a noble prize or any prestigous award for her awesome achievement.
Her status quo has been beaten by Ponari (popular wizard kid from Indonesia who can cure people by touching water and splash it to his patient) for only two days. After that, Sarah Azhari is back to be the most popular searching word. Hoooooo .. what a great invention!
Posted by Afril Wibisono
Add comment April 4, 2009
Spiral of The Silence & The Stories
Sedikit ingin share tentang fenomena theory Spiral of The Silence, dari analisa dua issue yang dulu sempat menjadi fokus utama media
Berita Pertama – Barrack Obama
Ketika Obama muncul sebagai salah satu kandidat presiden dari Partai Demokrat, orang-orang belum mengenal sosoknya sepopuler seperti sekarang. Bahkan banyak yang tidak mendukungnya menjadi presiden, dan mayoritas pendukung partai demokrat lebih suka melihat sosok Hillary Clinton, saingannya dalam satu partai, yang sudah terlanjur populer karena pernah menjadi First Lady AS. Tetapi seiring dengan bergulirnya waktu, Barrack yang pintar dan paham betul kekuatan media (investasi media $340 juta sekitar lebih dari 57% dari budget totalnya), meng-cover kelemahan popularitasnya dengan terus mendekati media dari berbagai channel di seluruh dunia, termasuk aktif dan mengorganisir khusus kampanye media nya di internet.
Perlahan-lahan tapi pasti orang mulai mengenal Obama. Obama yang paham akan momen ini, memanfaatkan isi kampanyenya dengan mengangkat tema perubahan, sesuatu yang diinginkan oleh mayoritas masyarakat AS setelah lama terkungkung dalam sistem pemerintahan yang modelnya sama selama puluhan tahu. Obama hadir menjawab mimpi Amerika. Dan pendekatannya terhadap media tetap dilakukan secara serius, sehingga Obama berhasil memikat media untuk mendukungnya lewat berita-berita positif.
Kelompok kulit hitam yang merupakan kelompok minoritas AS dan telah mendukung Obama dari pertama dia mencalonkan diri menjadi kandidat presiden, pelan-pelan merasa mantap berada pada posisinya dari hari ke hari. Ini karena, opini mayoritas yang sebelumnya anti kulit hitam untuk presiden AS, akhirnya berubah, balik mendukung Obama karena terpengaruh oleh kekuatan media yang telah memborbadir pikiran-pikiran mereka untuk menerima opini minoritas bahwa Obama pantas menjadi Presiden AS. Singkat cerita, persis seperti yang dikemukakan teori Spiral of the Silence, akhirnya opini minoritas berbalik menjadi opini mayoritas karena pengaruh media, dan itu menyebabkan Obama mulus terpilih menjadi Presiden AS.
Berita Kedua – Laskar Pelangi
Peluncuran film Laskar Pelangi sebelumnya tidak seheboh seperti antusias yang luar biasa yang terjadi seperti sekarang. Seperti layaknya film-film Indonesia lainnya, Laskar Pelangi pada awalnya dianggap sebagai film yang tidak sehebat film sebelumnya yakni Ayat-ayat Cinta atau AADC. Tetapi karena pendekatan yang bagus dengan media, termasuk taktiknya mengundang Presiden SBY beserta pejabat lain untuk menonton Laskar Pelangi dan itu dimanfaatkan tim promosi film untuk mempublikasikan kejadian tersebut kepada media, maka pelan-pelan orang mulai bertanya-tanya dan ingin tahu apa betul film tersebut bagus? Setelah menonton, dan hasilnya sangat puas, maka melalui mouth to mouth, Laskar Pelangi akhirnya direferensikan ke seluruh penggemar film untuk ditonton. Hal ini belum ditambah dengan kedekatan Mira Lesmana dan Miles Film yang sudah dari dulu dekat dengan media, yang mempengaruhi media untuk secara sukarela membantu promosi film ini ke masyarakat. Akhirnya, opini minoritas berubah menjadi mayoritas, dan itu menyebabkan berbondong-bondong masyarakat bersedia antri di bioskop untuk menonton film ini.
Kedua berita tadi yang sudah saya jelaskan tahap-tahapnya, pada dasarnya bisa diargumentasikan secara sistematis mengapa saya pilih teori Spiral of the Silence bukan yang lain, yakni sebagai berikut :
-
Individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkungannya, terutama dari media massa.
-
Media massa – dengan bias kekiri-kirian mereka – memberikan interpretasi yang salah pada individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya dalam opini publik pada berbagai isu. Media mendukung opini-opini kelompok kiri dan biasanya menggambarkan kelompok tersebut dalam posisi yang dominan.
-
Sebagai akibatnya, individu-individu itu mungkin mengira apa yang sesungguhnya posisi mayoritas sebagai opini suatu kelompok minoritas. Dengan berlalunya waktu, maka lebih banyak orang akan percaya pada opini yang tidak didukung oleh media massa itu, dan mereka tidak lagi mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut akan terisolasi.
-
Selama waktu tersebut, karena ‘mayoritas yang bisu’ tetap diam, ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat menjadi dominan.
-
Spiral of the Silence mengajak kita kembali kepada teori media massa yang perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama (Noelle-Meumann, 1973)
Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini memiliki asumsi dasar bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain. Dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neumann tahun 1984. Teori ini menjelaskan mengapa dan bagaimana orang sering merasa perlu untuk menyembunyikan (to conceal) pendapat-pendapatnya, preferensinya (pilihannya), pandangan-pandangannya, dsb., manakala mereka berada pada kelompok minoritas.
Secara ontologis kita bisa melihat bahwa teori ini termasuk kategori ilmiah. Teori ini mempercayai bahwa sudah menjadi nasib atau takdir (fate) kalau pendapat atau pandangan (yang dominan) bergantung kepada suara mayoritas dari kelompoknya.
Tapi, seperti teori-teori yang lain, teori ini juga bukan tanpa kritik. Berlakunya teori ini hanya situasional dan juga kontekstual, yakni hanya sekitar permasalahan pendapat dan pandangan pada kelompok. Tampaknya, teori ini tidak berpengaruh buat orang-orang yang dikenal sebagai avant garde dan hard core. Yang dimaksud dengan avant garde di sini ialah orang-orang yang merasa bahwa posisi mereka akan semakin kuat biasanya para intelektual, artist, visioner, sedangkan orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok hard core ialah mereka yang selalu menentang, apa pun konsekuensinya (Noelle-Neumann, 1984).
Pengritik melihat bahwa formulasi teorinya tidak lengkap, dan konsep-konsep utamanya tidak dijelaskan dengan memadai. Di samping itu, spiral of the silence, sebagai teori opini publik, dikelompokkan bersama perspektifnya yang lain tentang masyarakat dan media massa. Di pihak lain, spiral of the silence ini memperlakukan opini publik sebagai suatu proses dan bukan sebagai sesuatu yang statis. Perspektif itu juga memperhatikan dinamika produksi media dengan pembentukan opini publik (Glynn dan McLeod, 1985; Katz, 1981; Salmon dan Kline, 1983). Studi yang belum lama ini dilakukan memberi dukungan empirik pada teori spiral of the silence. Dalam evaluasi masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu komunitas di Waukegan, Illinois, Taylor (1982) menemukan bahwa orang-orang yang merasa opininya mendapat dukungan mayoritas akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya. Demikian juga dengan orang-orang yang merasa bahwa opininya akan mendapat dukungan di kemudian hari (misalnya kelompok avant garde). Mereka juga menemukan bahwa kelompok hard core di antara para pemilih lebih suka mendiskusikan kampanye politik daripada yang lain.
Jika melihat kelemahan dari spiral of the silence, maka untuk menutupi kelemahan ini maka perlu kita melihat teori lain yakni uses and gratification yang lebih menekankan pada khalayak aktif memilih media karena khalayak menentukan sendiri kebutuhannya masing-masing, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh opini yang sengaja dibentuk oleh media. Ini sangat cocok dengan tipe khalayak hard core dan avant garde tadi, yang tidak terpengaruh oleh efek teori spiral of the silence. Kalaupun khalayak tidak melakukan tindakan kontradiktif atas opini publik yang dibentuk, itu bukan berarti khalayak menyetujui atau mendiamkan mentah-mentah opini publik tersebut, tapi lebih kepada effort untuk tidak melakukan apa-apa dulu atas opini tersebut, tapi bisa jadi akan dimunculkan opininya sendiri yang merupakan opini minoritas di kemudian hari.
REFERENSI :
- Flew, Terry. New Media Introduction. Oxford, 2002
- Griffin, EM. A first look at Communication Theory. San Diego, 2006.
- McQuail, Denis. McQuail Mass Communication Theory. 2005
- Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung, 2001.
Posted by Afril Wibisono
2 comments April 2, 2009
Analisa Groupthink
Groupthink menurut Irvings Janis (1972) adalah istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang tidak masuk akal untuk menolak anggapan/ opini publik yang sudah nyata buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional tapi berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan melakukan aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak mempedulikan pendapat-pendapat yang bertentangan diluar kelompok. Kelompok yang terkena sindrom groupthink biasanya adalah kelompok yang anggota-anggotanya memiliki background yang sama, terasing (tidak menyatu, terisolir) dari pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses pengambilan keputusan.
Contohnya, keputusan AS menyerang Irak, banyak ditentang oleh negara lain dan bahkan sebahagian warga negaranya sendiri, meskipun dengan alasan adanya senjata pemusnah massal dan terorisme. Buktinya, dalam pemilu sela di AS dalam beberapa hari ini, partai Republik yang merupakan partainya pemerintahan Bush, kalah dari partai Demokrat. Di antara sebab kekalahan itu adalah karena masalah kebijakan pemerintah AS (yang dikuasai partai Republik) menyerang Irak (Reuter, 8/11). Akan tetapi buktinya keputusan itu telah dilaksanakan juga, dan media massa juga ikut membentuk pandangan masyarakat dengan memberitakan alasan-alasan yang membolehkan serangan tersebut. Para anggota kelompok yang tergabung dalam groupthink tersebut tidak pernah dan bahkan pantang menyalahkan pihak pemrakarsa gagasan serangan tersebut.
Contoh groupthink lain terjadi pada waktu meledaknya pesawat ruang angkasa Challenger. Padahal salah satu mekaniknya sudah faham kalau ada yang tidak beres dengan pesawat tersebut, sebelum diadakan peluncuran. Tetapi karena kepala mekanik sudah mengatakan bahwa pesawat dalam kondisi siap luncur, maka para anggota mekanik harus menjalankan tugasnya. Akhirnya, pesawat itu meledak diangkasa yang menewaskan seluruh awaknya. Namun para mekanik tetap membela kelompoknya dengan alasan bahwa suatu kecelakaan lumrah saja terjadi. Jadi tidak ada pihak yang salah. Namun tentunya, pengakuan mereka dianggap demikian oleh masyarakat sejauh media massa memberitakannya sesuai dengan alasan seluruh mekanik tersebut.
Singkatnya tentang groupthink, terjadi manakala ada semacam konvergenitas pikiran, rasa, visi, dan nilai-nilai di dalam sebuah kelompok menjadi sebuah entitas kepentingan kelompok, dan orang-orang yg berada dalam kelompok itu dilihat tidak sebagai individu, tetapi sebagai representasi dari kelompoknya. Apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan adalah kesepakatan satu kelompok. Tidak sedikit keputusan-keputusan yang dibuat secara groupthink itu yang berlawanan dengan hati nurani anggotanya, maupun orang lain di luarnya. Namun mengingat itu kepentingan kelompok, maka mau tidak mau semua anggota kelompok harus kompak mengikuti arah yang sama agar tercapai suatu kesepakatan bersama.
Faktor utama Concurrent Seeking Behavior sering menjadi dasar terjadi groupthink. Concurrent Seeking Behavior adalah perilaku kecenderungan saling ketergantungan dan kesepakatan bersama untuk bersatu dalam memecahkan masalah dalam kelompok. Perilaku ini muncul dipengaruhi variabel kelompok kohesif, struktur kelompok yang jelek dan konteks provokatif. Ketiga variabel inilah yang mempengaruhi kelompok untuk cenderung menggunakan groupthink dalam pemecahan masalah.
<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–>
<!–[endif]–>
Groupthink adalah situasi di mana perilaku concurrent seeking cenderung muncul sebelum pendefinisian masalah dan solusi dibuat secara baik. Kecenderungan munculnya perilaku tersebut dalam situasi menghadapi masalah, disebabkan adanya stress dan kecemasan. Stres dan kecemasan akan ketidakmampuan dan ketidakpercayaan diri mengahdapi masalah menyebakan kelompok cenderung menghindari dan lari dari masalah. Kepercayaan diri yang berlebihan menyebabkan kecenderungan mengambil resiko yang terlalu besar yang tidak sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh organisasi dari keputusan yang tidak rasional.
Irving Janis (Baron & Byrne, dalam Hanurwan, 2001) mengidentifikasi delapan simptom tentang berpikir kelompok (group think) pada proses munculnya kekerasan.Pertama adalah adanya simptom kekebalan diri (illusion of invulnerability), dimana pada situasi ini sebuah kelompok akan memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi dengan keputusan yang diambil dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka memandang kelompok mereka yang sangat unggul dan tidak pernah kalah dalam segala hal. Berikutnya adalah adanya simptom stereotip bersama, dimana suatu kelompok memiliki pandangan sempit dan anggapan sepihak bahwa kelompok lain lebih lemah. Adanya simptom moralitas, dimana pada suatu kelompok muncul anggapan bahwa kelompoknyalah yang paling benar dan merasa perlu untuk menjadi pahlawan kebenaran yang bertugas meluruskan kesalahan yang dilakukan kelompok lain. Kemudian adanya simptom rasionalisasi yang menjelaskan adanya argumentasi sendiri bahwa perilaku agresi tersebut merupakan keinginan kelompok lawan sendiri dan tindakan yang dilakukan adalah untuk membebaskan mereka (seperti kasus invasi AS ke Irak). Adanya simptom ilusi anonimitas, dimana ketika ada sebagian anggota yang ragu dengan tindakan kelompoknya namun tidak seorangpun dari mereka memiliki keberanian untuk mengungkapkan keraguan tersebut. Anonimitas yang menyebabkan individu-individu yang masuk dalam kelompok menjadi kehilangan identitas individunya (deindividuasi). Kondisi ini akan mendorong berkurangnya kendali moral individu yang selanjutnya timbul penularan perilaku yang tidak rasional dan cenderung bersifat destruktif. Adanya simptom ini dikuatkan dengan simptom tekanan untuk berkompromi terhadap keputusan kelompok. Individu akan ditekan untuk memiliki pandangan yang sama dengan sebagian besar individu lain yang ada dalam kelompoknya. Sampai pada tahap ini, tahapan berikutnya adalah munculnya gejala Swa-Sensor, dimana dibawah pengaruh kelompok yang sangat kohesif akan membuat sebagian besar orang mensensor setiap pandangan yang berbeda yang muncul dari diri mereka sendiri. Simptom terakhir adalah adanya usaha-usaha pengawasan mental. Dalam kelompok yang kohesif, satu orang atau lebih akan memiliki peran yang secara psikologis bertugas memelihara suasana dengan cara menekan orang yang berbeda pendapat dari kelompok umumnya.
Cara mengatasi groupthink menurut Janis adalah pemimpin kelompok menangguhkan penilaian, mendorong munculnya berbagai kritik atas program atau keputusan yang diusulkan, mengundang ahli-ahli dari kelompok luar, menugaskan satu atau dua orang anggota untuk menjadi devil’s advocate guna menentang pendapat mayoritas (sekalipun mereka sebenarnya setuju dengan pendapat itu), dan kelompok harus membuat keputusan-keputusan secara bertahap, tidak sekaligus.
Kritik E.M Griffin (1997) terhadap groupthink Janis adalah tidak adanya penelitian komprehensif mengenai kasus-kasus yang dianggap memenuhi kualifikasi groupthink, seperti Challenger-nya USA, sehingga faktor kohesifitas kelompok yang mendominasi terjadinya groupthink sulit diukur kadarnya. Intinya, Griffin mempertanyakan bagaimana, kenapa dan sejauh mana kohesifitas kelompok bisa membuat keputusan yang difinalisasi adalah salah/keliru.
Menelaah fenomena groupthink yang kebanyakan kasus yang diambil Janis berasal dari Amerika Serikat yang menganut demokrasi, Mulyana mempertanyakan mungkinkan groupthink atau fenomena sejenis itu juga terjadi di negara timur seperti Indonesia yang mewarisi budaya feodal dan paternalistik yang masyarakatnya ditandai dengan hubungan patron dan klien? Setiap teori atau konsep memang terikat budaya dan karena itu belum tentu berlaku dalam budaya lain. Groupthink boleh jadi muncul juga dalam komunikasi kelompok di kalangan elite politik kita, hanya saja ciri-cirinya mungkin agak lain. Misalnya, apakah keputusan yang diambil mantan Presiden Soharto berlandaskan groupthink yang dihasilkan Soeharto dan para pembantunya, setidaknya groupthink yang khas Indonesia yang lebih diwarnai oleh pendapat Soeharto? Atau apakah keputusan-keputusan Soeharto itu berdsarkan obrolan keluarga besar Cendana di meja makan? Semua itu rasanya masih samar kalaupun bukan misteri dan memrlukan kajian lebih dalam. Masih bisa kita ingat, cukup banyak keputusan Soeharto dan para pembantunya ini yang menghasilkan tindakan-tindakan yang dianggap sebagai kekeliruan fatal yang kesemuanya berakumulasi, merugikan rakyat banyak, menciptakn ketidakpuasan mereka dan akhirnya menimbulkan krisis politik dan ekonomi kita belakangan ini.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas diperlukan studi yang lebih seksama lewat wawancara mendalam dengan orang-orang yang pernah terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan tersebut dan dokumen-dokumen yang relevan.
Posted by Afril Wibisono
Add comment April 2, 2009
Playing Down Negative Post
In my holding company – Mensa Group, we just open our eyes to manage more detail to our PR 2.0 strategies. And those are still about how to develop a user friendly website, including as before discussion, informative, google friendly, up to date always, prompt to respond. Still, it’s not accomplished yet for all subsidiaries, like Landson Pertiwi Agung Pharmaceutical, Otto Pharmaceutical, and MBS. But, for Mensa Group and her subsidiary Menjangan Sakti, which you can click on www.mensa-group.com and www.mensa-trading.com , both of them are already developed well based on PR 2.0 strategy.
At least, we have finalized the first step, and we’re challenging in how to playing down negative post, even it counts for next future steps.
What is your ideas to succeed winning the battle for negative post? Just like in war, we must build fortress to have solid entrancement against our enemies. So, what kind fortress can be done for this?
1. still, first – as corporate website is still number one in rank of company information searcher from social networks, you must optimize your own website.
2. start a blog targeted to your name. if you’re a CEO for your company or one of top management or on behalf corporate communication, you can start to personalize your company by publishing your blog targeted to your name, or your company name or your product name or one of your boost program or services. invite your sociality to look, discuss, and share.
3. add sub domains of your corporate website and treats them as separate behavior, more personal, casual, relax
4. create social networks profile, targeted to your name. for example, create a business profile in social media, like Linkedin.
5. share everything that recorded to your company. please, be kind to share to your external sociality your company event photos on flickr, or any unique company videos on youtube, that you can link to your blogs, sub domains, or other social media. that would be very attractive to them, and the good things is the impact is more bigger than you only share those stuff to your internal. Remember, everything write or upload to social media, tends to buy!
Those 5 strategies at least can be your best way to prevent negative posting which attack your brand name company. You cannot imagine, if once you monitor your company name through search engine, like Google, and the appearance in first to third rank mentioned about your company news but in extremely negative tone. If that happened, it means your fortress are already destroyed! So, Welcome to PR 2.0 power!
Posted by Afril Wibisono
Add comment April 2, 2009