Spiral of The Silence & The Stories

Sedikit ingin share tentang fenomena theory Spiral of The Silence, dari analisa dua issue yang dulu sempat menjadi fokus utama media

Berita Pertama – Barrack Obama

Ketika Obama muncul sebagai salah satu kandidat presiden dari Partai Demokrat, orang-orang belum mengenal sosoknya sepopuler seperti sekarang. Bahkan banyak yang tidak mendukungnya menjadi presiden, dan mayoritas pendukung partai demokrat lebih suka melihat sosok Hillary Clinton, saingannya dalam satu partai, yang sudah terlanjur populer karena pernah menjadi First Lady AS. Tetapi seiring dengan bergulirnya waktu, Barrack yang pintar dan paham betul kekuatan media (investasi media $340 juta sekitar lebih dari 57% dari budget totalnya), meng-cover kelemahan popularitasnya dengan terus mendekati media dari berbagai channel di seluruh dunia, termasuk aktif dan mengorganisir khusus kampanye media nya di internet.

Perlahan-lahan tapi pasti orang mulai mengenal Obama. Obama yang paham akan momen ini, memanfaatkan isi kampanyenya dengan mengangkat tema perubahan, sesuatu yang diinginkan oleh mayoritas masyarakat AS setelah lama terkungkung dalam sistem pemerintahan yang modelnya sama selama puluhan tahu. Obama hadir menjawab mimpi Amerika. Dan pendekatannya terhadap media tetap dilakukan secara serius, sehingga Obama berhasil memikat media untuk mendukungnya lewat berita-berita positif.

Kelompok kulit hitam yang merupakan kelompok minoritas AS dan telah mendukung Obama dari pertama dia mencalonkan diri menjadi kandidat presiden, pelan-pelan merasa mantap berada pada posisinya dari hari ke hari. Ini karena, opini mayoritas yang sebelumnya anti kulit hitam untuk presiden AS, akhirnya berubah, balik mendukung Obama karena terpengaruh oleh kekuatan media yang telah memborbadir pikiran-pikiran mereka untuk menerima opini minoritas bahwa Obama pantas menjadi Presiden AS. Singkat cerita, persis seperti yang dikemukakan teori Spiral of the Silence, akhirnya opini minoritas berbalik menjadi opini mayoritas karena pengaruh media, dan itu menyebabkan Obama mulus terpilih menjadi Presiden AS.

Berita Kedua – Laskar Pelangi

Peluncuran film Laskar Pelangi sebelumnya tidak seheboh seperti antusias yang luar biasa yang terjadi seperti sekarang. Seperti layaknya film-film Indonesia lainnya, Laskar Pelangi pada awalnya dianggap sebagai film yang tidak sehebat film sebelumnya yakni Ayat-ayat Cinta atau AADC. Tetapi karena pendekatan yang bagus dengan media, termasuk taktiknya mengundang Presiden SBY beserta pejabat lain untuk menonton Laskar Pelangi dan itu dimanfaatkan tim promosi film untuk mempublikasikan kejadian tersebut kepada media, maka pelan-pelan orang mulai bertanya-tanya dan ingin tahu apa betul film tersebut bagus? Setelah menonton, dan hasilnya sangat puas, maka melalui mouth to mouth, Laskar Pelangi akhirnya direferensikan ke seluruh penggemar film untuk ditonton. Hal ini belum ditambah dengan kedekatan Mira Lesmana dan Miles Film yang sudah dari dulu dekat dengan media, yang mempengaruhi media untuk secara sukarela membantu promosi film ini ke masyarakat. Akhirnya, opini minoritas berubah menjadi mayoritas, dan itu menyebabkan berbondong-bondong masyarakat bersedia antri di bioskop untuk menonton film ini.

Kedua berita tadi yang sudah saya jelaskan tahap-tahapnya, pada dasarnya bisa diargumentasikan secara sistematis mengapa saya pilih teori Spiral of the Silence bukan yang lain, yakni sebagai berikut :

  •         Individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkung­annya, terutama dari media massa.
  •         Media massa – dengan bias kekiri-kirian mereka – memberikan interpretasi yang salah pada individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya dalam opini publik pada berbagai isu. Media mendukung opini-opini kelompok kiri dan biasanya menggambarkan kelompok tersebut dalam posisi yang dominan.
  •        Sebagai akibatnya, individu-individu itu mungkin mengira apa yang sesungguhnya posisi mayoritas sebagai opini suatu kelompok minoritas. Dengan berlalunya waktu, maka lebih banyak orang akan percaya pada opini yang tidak didukung oleh media massa itu, dan mereka tidak lagi mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut akan terisolasi.
  •        Selama waktu tersebut, karena ‘mayoritas yang bisu’ tetap diam, ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat menjadi dominan.
  •        Spiral of the Silence mengajak kita kembali kepada teori media massa yang perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama (Noelle-Meumann, 1973)

Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini memiliki asumsi dasar bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain. Dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neumann tahun 1984. Teori ini menjelaskan mengapa dan bagaimana orang sering merasa perlu untuk menyembunyikan (to conceal) pendapat-pendapatnya, preferensinya (pilihannya), pandangan-pandangannya, dsb., manakala mereka berada pada kelompok minoritas.

Secara ontologis kita bisa melihat bahwa teori ini termasuk kategori ilmiah. Teori ini mempercayai bahwa sudah menjadi nasib atau takdir (fate) kalau pendapat atau pandangan (yang dominan) bergantung kepada suara mayoritas dari kelompoknya.

Tapi, seperti teori-teori yang lain, teori ini juga bukan tanpa kritik. Berlakunya teori ini hanya situasional dan juga kontekstual, yakni hanya sekitar permasalahan pendapat dan pandangan pada kelompok. Tampaknya, teori ini tidak berpengaruh buat orang-orang yang dikenal sebagai avant garde dan hard core. Yang dimaksud dengan avant garde di sini ialah orang-orang yang merasa bahwa posisi mereka akan semakin kuat biasanya para intelektual, artist, visioner, sedangkan orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok hard core ialah mereka yang selalu menentang, apa pun konsekuensinya (Noelle-Neumann, 1984).

Pengritik melihat bahwa formulasi teorinya tidak lengkap, dan konsep-konsep utamanya tidak dijelaskan dengan memadai. Di samping itu, spiral of the silence, sebagai teori opini publik, dikelompokkan bersama perspektifnya yang lain tentang masyarakat dan media massa. Di pihak lain, spiral of the silence ini memperlakukan opini publik sebagai suatu proses dan bukan sebagai sesuatu yang statis. Perspektif itu juga memperhatikan dinamika produksi media dengan pembentukan opini publik (Glynn dan McLeod, 1985; Katz, 1981; Salmon dan Kline, 1983). Studi yang belum lama ini dilakukan memberi dukungan empirik pada teori spiral of the silence. Dalam evaluasi masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu komunitas di Waukegan, Illinois, Taylor (1982) menemukan bahwa orang-orang yang merasa opininya mendapat dukungan mayoritas akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya. Demikian juga dengan orang-orang yang merasa bahwa opininya akan mendapat dukungan di kemudian hari (misalnya kelompok avant garde). Mereka juga menemukan bahwa kelompok hard core di antara para pemilih lebih suka mendiskusikan kampanye politik daripada yang lain.

Jika melihat kelemahan dari spiral of the silence, maka untuk menutupi kelemahan ini maka perlu kita melihat teori lain yakni uses and gratification yang lebih menekankan pada khalayak aktif memilih media karena khalayak menentukan sendiri kebutuhannya masing-masing, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh opini yang sengaja dibentuk oleh media. Ini sangat cocok dengan tipe khalayak hard core dan avant garde tadi, yang tidak terpengaruh oleh efek teori spiral of the silence. Kalaupun khalayak tidak melakukan tindakan kontradiktif atas opini publik yang dibentuk, itu bukan berarti khalayak menyetujui atau mendiamkan mentah-mentah opini publik tersebut, tapi lebih kepada effort untuk tidak melakukan apa-apa dulu atas opini tersebut, tapi bisa jadi akan dimunculkan opininya sendiri yang merupakan opini minoritas di kemudian hari.

REFERENSI :

  1. Flew, Terry. New Media Introduction. Oxford, 2002
  2. Griffin, EM. A first look at Communication Theory. San Diego, 2006.
  3. McQuail, Denis. McQuail Mass Communication Theory. 2005
  4. Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung, 2001.

Posted by Afril Wibisono

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in Communication Studies and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Spiral of The Silence & The Stories

  1. Joker says:

    Everything dynamic and very positively!🙂

  2. tony sardjono says:

    Thank you. Keep up the Spirit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s