Online Itu Strategis, Bukan Eksekusional

Jika Anda berencana membuat komunikasi yang salah satu mediumnya adalah internet, libatkan orang yang paham medium tersebut dalam diskusi grand strategy dari awal. Mengapa? Karena (komunikasi) online itu strategis, bukan sekedar eksekusi. Selama ini, masih banyak yang beranggapan bahwa komunikasi di internet ’sederhana dan mudah ditebak’ seperti komunikasi di medium lain. Akibatnya, ketika brief komunikasi turun, biasanya sudah ada bentuk eksekusi/taktik apa yang akan dilakukan di medium tersebut.

Misalnya: TV membuat TVC 30 sec atau sponsorship program. Print ad membuat iklan cetak biasa atau advetorial. Radio membuat adlibs atau spot. Online membuat viral. Pertanyaannya: Bagaimana mungkin kita bisa menyebut kalau ke online eksekusi/taktiknya berupa forum saja,viral saja, atau blog saja, jika kita sendiri tak cukup paham ragam jenis komunikasi yang ada di internet, dinamika, plus minus, serta rambu-rambunya?

Masih mending jika online di strategy tersebut hanya sebagai medium pendukung sehingga ketika pilihan taktiknya salah tidak terlalu mengorbankan banyak hal. Tapi apa jadinya jika online dijadikan medium utama yang kemudian alamat url-nya dikampanyekan secara besar-besaran di medium lain, namun ternyata pilihan taktiknya bukanlah alat yang tepat untuk mencapai objektif?

Sebagai gambaran contoh: Saat ini banyak pemilik dan pengelola brand yang tersihir oleh kemeriahan web 2.0 yang memungkinkan terjadinya komunikasi antar user atau pun antara brand dengan loyalist-nya. Bahasa gampangnya, ada diskusi,lah. Bentuknya bisa forum, community site atau apa pun. Oleh pemilik/pengelola brand –karena dianggap cara yang hot dan pasti asik abis– taktik ini kemudian dijadikan sebagai alat untuk mencapai objektif, misalnya, membuat awareness produk yang baru diluncurkan.

Nama domain dipilih. Campaign dilakukan di mana-mana. Ketika konsumen menge-klik ke url tersebut, bukannya edukasi tentang produk yang diperoleh, melainkan diskusi yang berjalan tanpa kendali, doesnt lead to anything. Kok Bisa? Ya bisa, karena yang dipilih adalah bentuk komunikasi online yang sifatnya sangat cair, dikendalikan konsumen.

Mau isinya seperti apa, ya terserah konsumennya. Jika stratgy komunikasi selalu didasari penemuan atas consumer insight, maka strategy komunikasi online didasari oleh consumer insight dan online user behavior alias online insight. Untuk memahami hal ini, ngga ada cara lain. Libatkan orang yang paham medium tersebut dalam diskusi grand strategy dari awal.

dikutip dari Iin Fahima

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in PR 2.0 and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Online Itu Strategis, Bukan Eksekusional

  1. elmi5a says:

    Dear mbk Afril,

    aku tertarik dgn artikel mbk ini yg mengangkat tentang PR 2.0, aku mw nanya2 nich mbk berhubungan skripsiku jg tentang PR 2.0, aku agak kebingungan tentang konsep strategi PR 2.0 karena memang blm ada para ahli yg menjelaskan strateginya,, apa aku mengambil strategi plannya pr yg terdiri dari 9 langkah mulai dr analisis situasi, menentukan strategi, taktik dan evaluasi,,

    Terima kasih atas perhatiannya

    regrads

    elmi

    • Dear Elmi,
      Banyak baca buku PR 2.0 Mi, seperti misalnya saya sarankan untuk pertama cicipi Deirdre Breakenridge. Bagus tuh isinya. Disana dijelaskan PR 2.0 plan dan strateginya. Lengkap.🙂

      Intinya pada dasarnya, strategi plan tetap sama, hanya jika melingkupi wilayah PR 2.0 harus mengerti benar Anda bermain dengan tool, aplikasi yang dinamis, public, dan pengukuran yang berbeda. Yang berarti taktiknya pun pasti berbeda. Dan yang perlu diingat, jangan pernah berharap bahwa PR 2.0 kita akan jalan kalau PR tradisional atau PR offline-nya tidak berjalan. Karena sekarang kecenderungan perusahaan tidak tulus memanfaatkan PR 2.0 nya dengan terus menerus beriklan lewat social media misalnya, tanpa banyak melakukan aktivitas PR offline di dunia nyatanya. Mereka beranggapan bahwa PR 2.0 bisa jalan sendiri tanpa mengeluarkan dana lebih atau ada beberapa yang sangat percaya diri frontal berjualan langsung kepada audiensnya di social media, padahal pola audiens 2.0 sangat berbeda dengan audiens offline. 🙂

      Afril Wibisono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s