CSR bukan Sumbangan!

Afrilia Wibisono

Ceritanya ada seorang owner perusahaan yang punya tanah luas yang belum ada bangunan di atasnya di kawasan Pulogadung, sementara sehari-hari dia bekerja memimpin perusahannya di kawasan Kuningan. Pada suatu sore dia menyempatkan datang ke Pulogadung, dan alangkah kagetnya ketika melihat tanahnya sudah diubah menjadi arena pasar malam yang akan berlangsung beberapa hari. Dia bingung, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya dan tidak ada izin. Tapi karena si owner ini positive thinking, jadilah ia beranggapan, ya sudahlah .. itung-itung sumbangan. Itung-itung CSR.

Mendengar cerita itu, saya jadi berpikir, jangan-jangan bukan si owner itu saja yang beranggapan CSR itu sumbangan. Jangan-jangan hampir semua orang terutama si taipan-taipan papan atas Indonesia juga beranggapan demikian. CSR itu sumbangan. It’s just a redefinition for charity. That’s it!

CSR yang berasal dari kepanjangan Corporate Social Responsibility adalah sebuah bagian kontribusi perusahaan yang established yang dikonsepkan dalam sebuah model nyata dan dilakukan berkesinambungan untuk kemajuan masyarakat dan lingkungannya terutama yang terkena dampak dari seluruh aspek operasional perusahaan dalam proses jangka panjang. CSR identik dengan usaha untuk menciptakan pertumbuhan dan pembangunan masyarakat secara berkelanjutan.

Dari definisi di atas, CSR yang benar-benar CSR ternyata memegang porsi berat dalam perusahaan, karena ini menyangkut perencanaan yang kompleks untuk membuat basis tepat agar CSR perusahaan bisa terus berkembang sesuai dengan objektivitas dan jati diri perusahaan. Perencanaan ini meliputi visi misi perusahaan jangka panjang yang melibatkan komitmen owner untuk terus mendukung konsep CSR yang telah dibuat. Jadi tidak disarankan untuk mencla mencle, tidak konsisten dan tidak serius dalam melakukan CSR. Nah, yang menggelitik pikiran saya adalah makna sumbangan, yang sebenarnya adalah kegiatan yang tidak terus menerus, hari ini bisa nyumbang, besok belum tentu. Sumbangan adalah tidak berkonsep, kadang tidak perlu perencanaan sama sekali. Sumbangan itu lebih ke jangka pendek dan bukan jangka panjang. Jadi pastinya, CSR itu bukan sumbangan.

Jika CSR perusahaan sudah bisa menghasilkan pertumbuhan yang diharapkan (dan tentunya ini dapat dihitung berhasil dan tidaknya jika sudah melalui proses jangka panjang), barulah kita halal berharap jika CSR yang kita miliki bisa menjadi emblem tambahan untuk menambah citra baik perusahaan. Makanya, lucu jika saya melihat ada PR yang langsung mengharapkan image positif dari masyarakat lewat media setempat ketika perusahaannya baru saja memberikan sumbangan sembako pada masyarakat gempa. Yang jelas mungkin bisa menjadi iklan positif, tapi image positif .. masih agak terlalu jauh ya.

CSR juga sering tumpang tindih dengan makna marketing promosi. Seperti misalnya, iklan salah satu brand ternama air mineral, yang menyebutkan “setiap pembelian ‘brand’ tersebut berarti anda membantu program air bersih di kawasan ini”. Parahnya, dengan bangga perusahaan tersebut menyebutkan itu adalah CSR –nya. Well, menurut saya itu bukan CSR. Karena CSR adalah kontribusi murni perusahaan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Bukan kontribusi konsumen perusahaan yang bersangkutan. Menurut saya, itu adalah strategis markom saja. Untuk menarik pembeli. Itu saja maknanya.Sama saja dengan brand susu tulang, yang menyatakan gerakan 10rb langkah sebagai CSR nya.

Beberapa contoh-contoh CSR yang saya anggap berhasil menjadi emblem citra positif perusahaan bersangkutan adalah; (1) The Body Shop – Green Concept di seluruh dunia, (2) Sampoerna – Education scholarship di Indonesia , (3) Nestle – program air bersih untuk masyarakat India dan (4) Microsoft – membantu perancangan kurikulum komputer di sekolah-sekolah seluruh dunia.

Posted by Afril Wibisono

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in Communication Studies and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to CSR bukan Sumbangan!

  1. manguns says:

    Idealnya:
    CSR merupakan bagian dari civil society-sistem demokrasi, dimana corporate membiayai hak dan kewajiban warganegara berpartisipasi dalam pemerintahan pembangunan disektor yang menjadi pilihan corporate tsb. Seperti halnya berbagai adopsi yang dilakukan dari barat, CSR pun diadopsi tanpa diikuti roh dan prinsipnya.

    Karakteristik yang membedakan CSR dengan Promosi adalah, pelaksana kegiatan sosial tersebut. Bila dilakukan sendiri oleh perusahaan, merupakan kegiatan promosi. Pelaksana kegiatan CSR adalah warganegara atau representatifnya berupa LSM/Yayasan dengan pembiayaan berasal dari corporate.

    Hubungannya dengan istilah sumbangan adalah: seharusnya negara mengembangkan aturan atas kegiatan tersebut dalam berbagai aturan yang mengikat/sanksi dan aturan pengakuan/penghargaan. Misalnya dalam ketentuan perpajakan, dimana CSR dimasukan sebagai kategori sumbangan (yang diakui negara), yang sesuai prinsip adalah TAX DEDUCTABLE.

    Baik promosi dan CSR dalam logikan perpajakan keduanya adalah tax deductabel. Tapi demi menjamin berkembangnya civil society, corporate diwajibkan berpartisipasi dengan CSR, kalau tidak akan terkena sanksi.

    Perusahaan yang melakukan kegiatan sosial sendiri (mis Jamu Jago menyelenggarakan bakul jamu mudik bersama) bukan CSR – tapi promosi, terkena sanksi belum melaksanakan CSR
    Perusahaan memberikan dana (sumbangan) ke Yayasan dengan embel-embel harus disalurkan menjadi bea siswa untuk keluarga karyawan, atau penghijauan pabrik, merupakan sumbangan, tapi tidak masuk kategori CSR/sumbangan yang diakui negara-tax deductabel

    Kritik corporate terhadap LSM/Yayasan, tidak transparan dan akuntabel dalam mengelola dana dari corporate.
    Kami berjuang mewujudkan cita-cita civil society melalui penguatan kapasitas represantasinya-LSM.
    Yayasan Bina Integrasi Edukasi
    http://www.integrasi-edukasi.org

    • aturan CSR di negara kita memang abu-abu, semua belum jelas. Hanya saja, sekarang jauh lebih baik. Setidaknya ada reward berupa event CSR Award misalnya. Bagus untuk menjadi pull strategy pemerintah. Kelamahannya, tolak ukurnya belum jelas dan rinci. Juga seperti yang Bapak Manguns katakan, belum ada sistem punishment yang diterapkan.
      Saya akan bahas mengenai CSR, perspektif dan perbandingannya dengan negara lain di next artikel ya pak.🙂

  2. adjiwaluyo says:

    Alhamdulillah, BNI Syariah juga bikin CSR yang dinamakan Manajemen Syukur yang fokus pada pendidikan, salah satu ide Pak Rizqullah dan Mas Rizky Wisnoentoro, selain itu melibatkan partisipasi karyawan. Dana diperoleh dari keuntungan perusahaan ditambah sumbangan pegawai dan dana zakat (zakat hanya untuk 8 asnaf). Blognya bagus Mba(y), thanks, sangat inspiratif.

  3. Wah, masih sedikit bingung nih. Blum Mudeng! Tapi terimaksih atas penjelasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s