Groupthink Case: Lumpur Lapindo, Groupthink Bakrie Group

Jika teringat kasus lumpur Lapindo, yang nyatanya sampai saat ini masih belum selesai, saya ingin berbagi pengalaman tentang apa yang terjadi di dalam perusahaan Bakrie Group menghadapi salah satu isu terbesar di bumi pertiwi satu dasawarsa ini.  Tentunya, perspektif saya ini tidak bisa dikatakan absolut benar karena memang ada pandangan subjektif saya, yang dikaitkan dengan teori Groupthink ala Irving Janis, one of the best communication practitioner in the world.

Tidak sampai 2 (dua) tahun saya bekerja di perusahaan Bakrie, tapi saya banyak dilibatkan dalam program PR-PR yang melibatkan berbagai PR dari perusahaan Bakrie. Saya sendiri datang dari anak perusahaan Bakrieland Development Tbk, sebuah perusahaan Bakrie yang fokus di bidang properti perkotaan.  Perlu saya gambarkan sebelumnya, secara internal di grup perusahaan Bakrie, ada semacam kebijakan informal seluruh proses komunikasi internal dan eksternal perusahaan Group Bakrie diketahui langsung oleh  Bakrie Brothers, dan di beberapa hal, Bakrie Brothers bisa mengintervensi perusahaan-perusahaan Bakrie lain agar sesuai dengan visi misi perusahaan Bakrie. Oleh karena itu, secara teratur diadakan pertemuan untuk mensinergikan manajemen dan strategi komunikasi di perusahaan-perusahaan Bakrie, tentunya yang lebih terfokus pada hal-hal yang bersifat kebijakan manajamen, termasuk crisis management.

Ketika kasus lumpur Lapindo terjadi, Bakrie langsung diserbu dengan berita-berita negatif dari seluruh media nasional.  Media-media ini banyak memberitakan impact langsung penderitaan masyarakat sekitar yang terkena imbas.  Genangan lumpur yang meluas menjadi lautan lumpur pun menjadi objek menarik pemberitaan foto di media-media cetak nasional. Belum ditambah dengan headline-headline yang cukup provokatif memancing kemarahan setiap yang membacanya.

Lalu bagaimana Bakrie menanggapi hal ini?  Saat itu, manajemen Bakrie langsung bertindak, mengumpulkan fakta-fakta lapangan tentang apa yang sebenarnya terjadi.  Secara internal, secara cepat dibentuklah tim khusus yang mengurus crisis management Lapindo yang melibatkan top management Bakrie Group, ahli-ahli geologi independen baik skala nasional dan internasional dan juga melibatkan PR-PR di perusahaan-perusahaan Bakrie dan. Tim khusus ini bertanggung jawab memberikan pandangannya secara cepat tentang apa yang sebenarnya terjadi, termasuk pandangan tentang kemungkinan faktor alam yang menyebabkan disaster ini.  Setiap pandangan dan pendapat dari tim khusus ini menjadi pertimbangan pimpinan tertinggi Bakrie menjawab pertanyaan-pertanyaan di luar. Setelah sibuk mengumpulkan fakta-fakta lapangan, sekitar dua minggu setelah isu panas luncur, barulah tim khusus Lapindo siap memberikan informasi resmi tepat untuk karyawan-karyawannya di seluruh perusahaan Bakrie (tidak semua karyawan, tapi banyak perwakilan strategis mewakili karyawan).

Dengan cara roadshow, tim khusus ini menghadirkan presentasi komprehensif dengan menghadirkan ahli-ahli geologi dari seluruh dunia tentang fakta-fakta yang terjadi di lapangan, termasuk jawaban yang memperkuat bahwa faktor alam yang menyebabkan terjadinya semburan panas di jarak 200 meter dari pemboran resmi Lapindo.  Kesimpulan ini diungkapkan dengan cara yang benar-benar komprehensif dari sisi keilmuan, gaya penyampaian dan faktor leadership yang tinggi yang mampu menggiring opini internal menjadi mendukung opini pemimpin tertinggi. Secara kontinyu pun, tim khusus ini memberikan waktunya melakukan interpersonal communication dengan beberapa petinggi-petinggi di perusahaan  Bakrie. Dengan di-support langsung oleh PR-PR perusahaan bakrie, maka aliran pesan yang sinergis pun mengalir lancar, dan mampu mempengaruhi pendapat karyawan.

Pendapat Aburizal Bakrie CS tentang Lapindo Didukung oleh Karyawannya

Pendapat Aburizal Bakrie yang memang berkesimpulan bahwa apa yang terjadi dengan lumpur Lapindo karena disebabkan faktor alam bukan karena kelalaian Lapindo didukung oleh karyawannya.  Semua orang Bakrie terkesan sepakat bahwa memang ini adalah karena faktor alam yang menurut teori geologinya terjadi pergerseran dan keretakan bumi yang memang rawan terjadi karena adanya gugusan jalur yang membentang dari daratan Cina, Jepang, Sumatera, Jawa sampai NTT.  Ditambah terjadinya semburan katanya berada di jarak 200 meter dari proses pengeboran. Sementara menurut Bakrie, ada 700 titik semburan lumpur yang ada di dunia. Jadi titik semburan ini bisa di mana saja. Saya sendiri, sebagai PR salah satu perusahaan Bakrie berusaha memahami penjelasan tim khusus ini, dan menyadari kemungkinan-kemungkinan seperti itu mungkin sekali terjadi.  Tapi di lain sisi, saya juga agak takut kalau pendapat saya mempercayai ini akan menjadi salah, tapi saat itu saya tidak bisa mengungkapkan karena ada perasaan takut dikucilkan.  Entah apakah saya terpengaruh atau tidak, yang jelas memang saya merupakan bagian dari tim untuk mensukseskan program komunikasi internal Bakrie untuk penanganan manajemen krisis Lapindo.

Sementara yang terjadi di luar, banyak pendapat para ahli geologi yang lain yang beradu, kalau kasus lumpur panas lapindo bukan fenomena alam, tapi karena faktor kelalaian dari proses pengeboran yang tidak hati-hati.  Ada fakta-fakta yang mengarah ke sana, dan ini juga dikaitkan dengan keputusan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di International Conference and Exhibition Cape Town, Afrika Selatan, 2008 lalu yang mengatakan memang ada faktor kelalaian pengeboran.

Groupthink – kah??

Menurut Irvings Janis (1972),  Groupthink adalah istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang tidak masuk akal untuk menolak anggapan/ opini publik yang sudah nyata buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional tapi berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan melakukan aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak mempedulikan pendapat-pendapat yang bertentangan diluar kelompok. Kelompok yang terkena sindrom groupthink biasanya adalah kelompok yang anggota-anggotanya memiliki background yang sama, terasing (tidak menyatu, terisolir) dari pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses pengambilan keputusan.

Lalu apakah fenomena ‘kekeraskepalaan ‘Bakrie dan semua elemen yang terlibat dalam perusahaan Bakrie tentang kasus Lapindo diakibatkan oleh faktor alam (melawan opini public) merupakan bagian dari Groupthink?

Menurut saya iya. Karena di kasus Bakrie Lapindo, terjadi kesinergisan kelompok yang percaya diri menepis semua pendapat lain diluar pendapat dirinya.  Seperti yang dikemukakan oleh Irving Janis (Baron & Byrne, dalam Hanurwan, 2001) mengidentifikasi gejala kekebalan diri (illusion of invulnerability) merupakan salah satu tanda-tanda groupthink, yakni dimana pada situasi ini sebuah kelompok akan memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi dengan keputusan yang diambil dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka memandang kelompok mereka yang sangat unggul dan tidak pernah kalah dalam segala hal.

Selain itu adanya gejala stereotip bersama, dimana suatu kelompok memiliki pandangan sempit dan anggapan sepihak bahwa kelompok lain lebih lemah. Gejala moralitas juga terjadi di groupthink Bakrie Lapindo, karena menganggap dirinya yang paling benar dan merasa perlu untuk menjadi pahlawan kebenaran yang bertugas meluruskan kesalahan yang dilakukan kelompok lain.

Selain itu gejala rasionalisasi yang menjelaskan adanya argumentasi sendiri yang tidak kalah seru menentang argumentasi lain.

Lalu  adanya gejala ilusi anonimitas, dimana ketika ada sebagian anggota yang ragu dengan tindakan kelompoknya namun tidak seorangpun dari mereka memiliki keberanian untuk mengungkapkan keraguan tersebut (ini sebenarnya terjadi pada saya waktu masih menjadi karyawan Bakrie). Anonimitas yang menyebabkan individu-individu yang masuk dalam kelompok menjadi kehilangan identitas individunya (deindividuasi). Kondisi ini akan mendorong berkurangnya kendali moral individu yang selanjutnya timbul penularan perilaku yang tidak rasional dan cenderung bersifat destruktif.

Adanya gejala ini dikuatkan dengan gejala tekanan untuk berkompromi terhadap keputusan kelompok. Individu akan ditekan untuk memiliki pandangan yang sama dengan sebagian besar individu lain yang ada dalam kelompoknya.

Sampai pada tahap ini, tahapan berikutnya adalah munculnya gejala Swa-Sensor, dimana dibawah pengaruh kelompok yang sangat kohesif akan membuat sebagian besar orang mensensor setiap pandangan yang berbeda yang muncul dari diri mereka sendiri.

Gejalaterakhir adalah adanya usaha-usaha pengawasan mental. Dalam kelompok yang kohesif, satu orang atau lebih akan memiliki peran yang secara psikologis bertugas memelihara suasana dengan cara menekan orang yang berbeda pendapat dari kelompok umumnya.

Anyway, sekarang saya tidak lagi bekerja di Bakrie. Mungkin karena saya sudah tidak menjadi bagian darinya, saya sekarang bisa beranalisis groupthink memang terjadi di Bakrie untuk kasus Lapindo-nya.

Posted by Afril Wibisono

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in Communication Studies and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Groupthink Case: Lumpur Lapindo, Groupthink Bakrie Group

  1. manguns says:

    Dalam dunia bisnis groupthink sah-sah saja. Dan puncak grouptink kasus Lapindo adalah keberhasilan kolaborasi dunia bisnis dengan dunia politis, dengan berhasil menunggangi (mengibuli) kaum nasionalis PDI dan hijau (PKS), mengusung isu century, gender untuk menggusur benteng terakhir profesional ekonomi anggaran Ind-Sri Mulyani.
    Jadilah potensi kerugian bakri sebagian besar dialhikan menjadi tanggungan seluruh rakyat Indonesia, lewat APBN

  2. ya .. Bakrie’s going stronger. No wonder if Ical apply for next president.

  3. Anthony Iwan Bachtiar says:

    GROUPTHINK BAKRIE GROUP vs CLASS ACTION
    Menurut pandangan saya sebagai orang awam, Kasus Lapindo menjadi semakin seru dan panjang karena adanya pertentangan dua kelompok diatas. Inti dari pertentangan itu adalah apakah ini bencana alam murni atau kesalahan manusia semata atau gabungan keduanya “Man made disaster” yakni suatu bencana alam yang awalnya dipicu oleh kesalahan manusia.

    Tampaknya Groupthink Bakrie Group dengan illusion of invulnerability mempunyai lobby yang begitu kuat dan hebatnya dengan pihak pemerintah dan partai partai besar dan berpengaruh sehingga sampai saat ini pun pemerintah tetap diliputi keraguan apakah ini memang bencana alam atau bukan dan menimbulkan dilematis yang sangat besar.

    Kalau mengacu kepada pendapat Afril bahwa Ical sedang berusaha mencari presidential track dan mau jadi pemimpin bangsa ini. Groupthink Bakrie Group perlu merubah strategi menjadikannya sebagai pahlawan di Lumpur Lapindo. Meski keluar uang banyak “to entertaint” masyarakat dan opini public dengan cara menyelesaikannya sampai tuntas meski agak terlambat dan menurut pendapat saya jumlah tanggung jawab perdata yang harus dikeluarkan notabene tidak ada artinya dengan seluruh kekayaan Bakrie Group, ketimbang tuntutan pidana (kalau ada yang melihat dari kacamata ini) lewat menimbukan ketidak nyamanan hidup dan penderitaan sekian banyak masyarakat.

    Ketimbang memasang bendera partai di lokasi bencana merapi maupun mentawai atau mendirikan posko posko bencana agar tampak oleh media.

    Saya sungguh tidak tahu kemana arah pemikiran Groupthink Bakrie Group ini, mungkin rekan Afril yang pernah tinggal dan hidup didalam groupthink ini tahu persis kemana arahnya.

  4. rianto says:

    Sudah banyak artikel anda yang saya baca dan bagus berkenaan dengan peran PR dan CSR, maaf kalo saya berkomentar baru ini, ada berita baru yang menarik berkenaan dengan pemberitaan Bakrie & Brothers di kompas.com, Selasa (9/10/2012) “Utang 10 Perusahaan terailiasi dengan Bakrie Brothers menumpuk”.
    Bagaimana strategi/peran anda sebagai PR pada salah satu group Bakrie dalam menghadapi berita ini? terima kasih yang selama ini anda banyak menyampaikan artikel yang bermanfaat buat saya.

  5. Dear Mba Afril.. terima kasih banyak artikelnya ^^ sangat membantu untuk ngerjain tugas UAS PTK (Pak Edu nih). hehe.. saya lagi ambil master ilkom mba di UI smt 1. Tadi lihat profile mba afril lulus 2010 dari mankom ya?! ^^ btw mba.. pertama kali lihat mba Afril disini keinget sama seorang PR di perush express taxi, namanya mba Afril juga. Dulu ketemu di ICOMP (saya mewakili MB Martha Tilaar), ini mba Afril yang sama bukan ya?? makasiihhh mba ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s