Bagaimana Anda Mengukur Sukses Tidaknya Program PR Anda?

Afril Wibisono

Sebenarnya, mengukur sukses tidaknya kampanye atau program PR kita berdasarkan kinerja penjualan perusahaan bukanlah cara yang tepat. PR tidak bekerja seperti itu. PR adalah investasi jangka panjang dan bila dilakukan dengan benar, akan meningkatkan kesadaran produk, jasa, atau keahlian, untuk audiens target Anda. Dan ini tidak ditandai dengan meroketnya penjualan dalam waktu yang singkat. Efek PR abstrak, ada tapi tidak bisa dihitung. Dirasakan tapi seringkali tidak terlihat.

Mari kita lihat satu contoh. Katakanlah kita ingin mempublikasikan fitur modern produk kita di majalah popular. Kita mungkin perlu PR handal untuk tahu bagaimana mendapatkan publikasi terbaik di majalah popular yang tepat, tetapi kita tidak membayar majalah itu untuk fitur kita dalam halaman-halamannya karena segala publikasi yang dilakukan PR adalah hampir gratis (tidak semahal iklan). Tetapi bagaimana jika kita beriklan? Berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk publikasi yang sama dengan bentuk iklan?

Iklan belum tentu berefek positif seperti yang kita harapkan. Iklan cenderung memiliki barrier kredibilitas audiens karena iklan dikenal sebagai komunikasi yang berasal 100% dari produsen. Kecenderungan untuk tidak percaya 100% pada iklan pasti ada di setiap audiens. Berbeda dengan berita publikasi. Di sana, ada tingkat objektivitas media yang menyaring konten berita. Ada kredibilitas lebih yang disampaikan untuk audiens. Efek abstrak inilah yang kerap muncul untuk publikasi PR yang baik. Sebagai informasi, kredibilitas publikasi bernilai 3 sampai dengan 10 kali dari iklan.

Jadi apa kesimpulannya? PR tidak secara langsung berdampak pada peningkatan penjualan atau keuntungan. PR itu abstrak. Dia ada untuk meningkatkan kredibilitas produk kita. Dia ada untuk meningkatkan awareness, kemudahan akses word of mouth yang menggabungkan diri sebagai komplimen yang dibutuhkan dalam program marketing kita. Dia ada untuk tingkat kesuksesan bisnis selanjutnya.

Jadi, apakah masih berpikir untuk mengkesampingkan PR dalam perangkat kesuksesan program marketing Anda?

posted by Afril Wibisono

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in Communication Studies, PR 2.0 and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Bagaimana Anda Mengukur Sukses Tidaknya Program PR Anda?

  1. Ilham says:

    Setelah membaca blog ini, ada beberapa pertanyaan :
    1. Apa bedanya PR dengan Marketing ??
    2. Bagaimana mengkomunikasikan pemahaman seorang PR kepada CEO perusahaan tentang hasil kinerjanya?
    3. Daftar referensi yang anda gunakan dalam menulis blog ini?
    4. “Dia ada untuk tingkat kesuksesan bisnis selanjutnya” penjabarannya gmn?

    May u can help : Breakdown kan tingkat pemahaman anda kepada saya tentang hasil kinerja PR.

  2. wah banyak ya pak ilham pertanyaannya🙂 tapi gapapa saya akan coba jawab satu persatu ..

    1. pr dengan marketing berbeda pak. simpelnya begini,

    Marketing
    si Produsen berkata pada konsumen: “Produk saya bagus loh bu.” dan produsen mulai menjelaskan kelebihan, keunggulan, perbedaan yang didapatkan dari produknya dsb.

    Public Relations:
    Si produsen menyakinkan produknya bagus ke konsumen (citra), “Percaya deh, produk ini bagus.” dan produsen melakukan kampanye produk dengan timeline tertentu ke konsumennya, yang isi programnya mayoritas tidak langsung ke produk (soft selling), berikut dengan atribut yang mendukung yang dilakukan lewat media, maupun non media, sehingga keyakinan konsumen akan produk menjadi tinggi.

    2. saat CEO membutuhkan PR dia juga harus tahu bahwa PR adalah investasi citra produk dan perusahaan. investasi ini bisa jangka pendek, bisa jangka panjang. jangka pendek jangka panjang tergantung target dan pengukurannya seperti apa. Misalnya, sewaktu saya bekerja di LG Electronics yang melakukan perubahan tagline dari Digitally yours menjadi Life’s Good!, kita membuat program pr yang merupakan satu dari banyak program perusahaan yang mendukung perubahan tagline tersebut. ujung2nya adalah citra si LG yang merepresentasikan produk2nya adalah untuk kehidupan yang baik, hebat, dan modern. kalau citranya sudah demikian, pasti ada opsi bagi si calon pembeli untuk memiliki produk LG. dan berarti itu sales.

    Kita buat ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya, karena kita memakai program media dan sponsorship, maka pengukurannya pun berdasarkan hasil si media dan efektifitas sponsorship. Kita melibatkan monitoring media, analisis konten, survey konsumen, termasuk menghitung pr values yang kita satukan menjadi report program pr tahunan untuk CEO.

    seperti itu pak.

    3. daftar buku untuk blog saya ini macam2 pak. tergantung kontennya. mulai dari komunikasi dasar, pr 2.0 sampai masalah branding dan consumen behaviour. selebihnya dipadukan dengan pengalaman public relations saya di industri-industri, seperti elektronika, consumer goods, farmasi kesehatan, dan properti. belum termasuk dengan diskusi2 saya dengan rekan2 sejawat, dosen2 komunikasi dan seminar2 pr terkait.🙂

    4. apapun akan dilakukan untuk memiliki citra yang baik. dengan citra yang baik, akses produk untuk didengungkan lewat WOMM, untuk direkomendasikan oleh consumer, untuk dibicarakan dan untuk dibeli produknya akan lebih besar. begitu juga ketika si produsen akan melakukan pemasaran produk lainnya yang baru, atau melakukan update produk lamanya atau ketika ingin mengalahkan persaingan pasar. melalui keberhasilan PR nya yang merupakan satu program dari IMC perusahaan, akan memudahkan keberhasilan bisnis selanjutnya. seperti itu pak.

    Mengenai hasil kinerja PR, balik lagi tergantung dari target / goal bapak membuat program PR. oke, misalnya jangka pendek. goalnya apa. jangka pendek biasanya 3 th plg sedikit lamanya. kalau goalnya sales, jangan lari ke program pr. tapi program marketing. karena program pr lebih ke arah citra, infrastrukstur nya untuk keberhasilan program marketing. tapi kalau jangka panjang, anda berbicara goalnya sales, maka bisa anda masukkan program PR untuk sales. jangka panjang biasanya 5 sd 10 th. seperti itu pak. jadi jangan paksakan pr jangka pendek untuk sales. yang bisa kita lakukan adalah menghitung keefektifan program lewat tool2 yang bisa menjadi tolak ukur keberhasilan pr.

    demikian pak. semoga membantu ya.🙂

  3. Antoni says:

    Blog dan tulisan yang bagus mba. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja menggunakan sistem MLM untuk menjual produknya. Tapi kebetulan ada produk baru yang kami anggap suatu inivasi dan ingin dipublikasikan secara global dan nasional. CEO berharap dengan menggunakan PR akan dapat langsung memberikan impact (High Selling), tetapi kalau membaca tulisan mba afril bahwa tujuan jangka pendek pun memerlukan waktu sampai 3 tahun.

    jadi problemnya gini mba, dalam pikiran CEO (dia singaporean) dengan menggunakan PR Consultant maka akan dapat free publication (tulisan di media massa ect), maka itu bisa dianggap sebagai suatu promosi (seperti kita beriklan) sehingga dia pun menargetkan sales yang tinggi. Jelas ini bertolak belakang dengan yang mba afril jelaskan. Anggap saja saya setuju dengan mba afril, tapi kemudian, bagaimana ya menjelaskan ke CEO bahwa percuma menggunakan PR kalau maunya High Selling?

    thanks

  4. Hallo Antoni,

    First thank you for the compliment ..🙂

    Yep, the weakness of all PR Program is most time they’re not in line with short term sales target. You just cannot push the limit, because PR has its own way. But with the sustainably soft campaign, along the time it will boost more awesome than any sales tactic ever be. And the good news is, it’s over lasting.

    Saya sudah berkecimpung sekitar 10th di dunia PR, setengahnya berhubungan khusus dengan media. Menurut saya, hampir sulit ada publikasi yang diharapkan bernilai gratis. Saya bilang yang diharapkan lho. Jd kalau ada publikasi yang hanya mention your brand on newspaper or something, itu bukan jenis yang diharapkan. Karena persepsi tentang publikasi yang diharapkan adalah brand anda inginnya diceritakan begini, begitu lengkap dengan fitur unggulan ini itu dan lain2. Mirip seperti iklan advertorial.

    Belum dengan karakter bermacam media yang berbeda-beda. sebut saja, majalah komputer pasti punya kolom review produk di kontennya. tapi apa koran nasional kompas punya review produk sejenis? Lalu jangan lupa dengan menghubungkannya dengan segmentasi customer kita terhadap media. apa mereka adalah pembaca media yang kita tuju?

    Itulah hebatnya PR. dari skala konten yang diharapkan di publish, ada range 1 sd 10. semakin tinggi nilai skalanya, semakin hebat PR nya, semakin hebat hubungannya dengan media, semakin tinggi cost treatment dia yang memakan waktu dan uang. Hanya karena perputaran struktur organisasi media yang cukup tinggi apalagi koran harian, ditambah sikap objektivitas yang berbeda-beda di masing-masing personel wartawan dan editor media, menambah semakin sulitnya skala untuk mencapai berita yang diharapkan ini secara gratis (walaupun, dalam artian harfiah tidak ada yang berarti gratis nol budget, karena ada fee untuk entertain dll).

    bertolak dari investasi hubungan jangka panjang yang harus dimiliki PR ke media, tidak berarti seorang CEO bisa berpandangan jika dia meng-hire PR kelap kakap atau konsultan, dia bisa mendapatkan publisitas gratis. Tidak demikian. Kalaupun iya, itu tidak akan berumur panjang. Karena jika mau ber’citra’ benar-benar baik di mata media, si CEO ini harus ikut ‘nyemplung’ bersama media. Dia harus partisipasi setiap ada event yang berhubungan dengan media, baik formal maupun informal. Gak usah terus-terusan, tapi sering lah. Dan ini gak bisa dibatasi cuma ber’gaul’ 1 bln 2 bln, karena akan terus berlangsung jika si CEO menganggap pertumbuhan perusahaannya juga akibat kedekatan perusahaannya dengan media.

    demikian.🙂

  5. leonard todo says:

    sepertinya Mba Afril seorang PR yang handal dan kredibel, saya punya pertanyaan buat mba afril :
    1. Sebenernya apa sih partner relations itu??apakah perusahaan hanya menjalin hubungan baik dengan stakeholders saja?
    2. apa yang dilakukan seorang PR dalam mengatasi persoalan Partner Relations, seperti contoh Kementrian Koperasi tidak membina lagi para pengusaha UKM?
    3. teori yang didapat apa hanya didapat di teori frank jefkin?
    hanya itu saja mba afril, thx ya sukses dan doakan saya sebentar lagi mau lulus kuliah nih, amiienn..

    • handal? masih banyak Mas yang lebih dari saya. Hanya ingin berbagi saja. Oke saya jawab pertanyaannya satu-satu ya. Maaf agak telat🙂
      1. Iya donk, justru itu inti kenapa perusahaan punya PR. Ujung2nya membangun dan menjaga kredibilitas perusahaan kedalam dan keluar. PR itu kerjaannya abstrak, lebih banyak intangible, strategis. Jadi tangan2 PR yang sudah mengerti seluk beluk pengalaman dan kondisi perusahaan tersebut sangat diperlukan. Oleh karena itu, banyak perusahaan besar menempatkan PR langsung dibawah CEO karena posisinya yang memang strategis tersebut. Tidak di bawah marketing atau lainnya ya, seperti yang sering terjadi di perusahaan2 berkembang di Indonesia.

      2. Maksudnya Government Relations ya, karena Anda menyebutkan kementerian koperasi. Oke banyak perusahaan yang sudah IPO atau Tbk, biasanya mengkhususkan posisi tersendiri mengurus government atau sering disebut government relations. biasanya posisi ini berada tetap di bwah ranah communication atau PR. Jadi tetap bagian PR/Communication. Tapi ada juga yang terpisah. Biasanya seorang Government Relations handal memiliki celah2 handal yang bisa membuat si pembuat keputusan pemerintah menyetujui program / tujuan perusahaan. Usaha2 itu bisa formal maupun informal. Saya pernah dapat cerita, seorang government relations saking mentoknya tidak bisa kemana2, malah datang ke LSM terkait agar bisa melakukan demo atas issue yang sebenarnya jika diperhatikan government untuk direvisi, bisa menguntungkan perusahaannya. Sampai begitu loh.🙂

      3. aku suka buku apapun, dan PR kebetulan punya banyak pakar PR dunia. Frank Jefkin itu hanya satu diantara ratusan. Dia menurutku bagus untuk pemula PR. Tapi kalo mau yang lebih hot dari itu, .. banyak.🙂

  6. putri says:

    halo mba afril, senang sekali bisa membaca blog mba afril,,its so helpful..saya sedang kuliah di jurusan PR …dan saya sedang mengerjakan studi Kunci sukses PR melalui komunikasi media…boleh mba beri saya satu contoh brand nya dan medianya media apa ya mba?..many thanks mba

    • Oke, saya jawab ya.

      Kebetulan akhir2 ini saya melihat kampanye menarik dari sebuah brand jasa service telekomunikasi yang join venture, I Hate Slow. Pernah liat dan dengar dong? Hm .. saya sudah bisa bayangkan budget untuk kampanye tersebut pasti milyaran. Salut untuk perusahaan tersebut yang bisa men-support kegiatan branding yang sebenarnya merupakan bagian dari PR program. Kenapa PR? karena ini program investasi yang tidak langsung menjual produk. Bedanya PR program sama promosi / marketing adalah PR agak berkelok dalam mencapai tujuan. Dia sangat memperhatikan nilai ketertarikan audiens luar dalam menciptakan issue strategis yang langsung nge-hook di batin setiap audiens, dan hilangnya efek agak lama.

      Sekarang semua orang tau ada slogan I hate Slow, walau memang belum tentu 100% tau kalo itu adalah kampanye SmartFren tapi goal untuk menancapkan image I hate Slow sudah terbentuk. Dan kalau Anda lihat varian kontennya beranekaragam di setiap media komunikasi yang ada di Indonesia.

      Bentuk responsibility PR tetap harus ada, walaupun tidak langsung menunjukkan angka penjualan yang diraih saat itu juga. Bentuknya bisa saja lewat indikator pencapaian branding yang bisa dilakukan lewat survey dan check list activity. Branding kan juga ada tingkatannya🙂. Jadi tergantung target brandingnya mau level mana, nah itu yang harus menjadi goal pencapaian. Demikian ya.🙂

  7. Erni Husain says:

    mbak terus terang saya masih agak bingung bagaimana mengukur keberhasilan suatu program PR. Sampai sekarang instansi saya tidak pernah mengukur keberhasilan program/efek dari suatu program PR, karena tidak tahu bagaimana harus mengukurnya. Tolong dijelaskan. Terima kasih sebelumnya.

    • Mengukurnya gampang. ada dua, kualitatif atau kuantitatif. Atau bahkan mix? Asal dilakukan transparan (biasanya pake lembaga survey independen atau luar) dan bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Kenapa saya bilang transparan? Karena sekarang banyak loh PR yang ga mau diketahui kalo kinerjanya buruk, alias tidak dapet hasil. hehehe. Kenapa saya bilang harus dipertanggungjawabkan? Lho iya donk, data bagaimanapun yang didapat harus benar2 ril. Misal, survey focus group 10 audiens. yang di survey siapa? kapan surveynya? pekerjaannya apa? jenis kelamin? domisili dimana? terus hasil diskusinya bagaimana? siapa yang banyak bicara siapa yang tidak? siapa yang menolak kesimpulan siapa yang cuma ikut-ikutan saja? siapa pengawas survey focus group nya? valid tidak independensinya? dsb. semoga menjawab ya🙂

  8. dian slowmelow says:

    mbk PR itu sendiri apa ya mbk tolong dong di jelaskan sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s