PR Soooow Last Year VS PR Now

afril 3 - CopyKece ya judulnya. Sengaja. Biar banyak yang tersindir.🙂 Bercandaa. Hehehe.

Tapi biasanya kalau orang maju dikasih masukkan, dia akan mencermati. Menganalisa. Jika ada benarnya, dia akan berubah. Semoga ya ..

Perbandingan PR zaman dulu dengan PR zaman sekarang saya telurkan dalam poin-poin dari pengalaman, referensi buku, pendapat ahli, dan pemikiran saya saja. Jadi kalau ada yang kurang, silakan tambahi sendiri dalam komentar artikel ini.  Biar gampang, yang tulisan bold untuk PR zaman dulu. Yang tulisan light untuk PR zaman sekarang. Kita mulai yah.

PR wajib bikin press release untuk setiap acara/headline perusahaan. PR gak ada prioritas bikin press release, tapi wajib update status di Twitter/Facebook, bikin/update website atau blog untuk komunitasnya, nyalain aktivitas btl biar jadi WOMM. Terus yang paling penting monitoring dan kontrol.

PR wajib bikin aktivitas dengan media minimal sebulan sekali. PR wajib membuka semua channel interaktifnya secara real time sama fans/follower-nya/loyal customer-nya/komunitas-nya, setiap hari, kapan saja. Gak ada tuh jadwal minimal sebulan sekali.

PR cuma miliknya divisi PR di perusahaan-perusahaan. PR adalah milik semua orang yang bekerja di perusahaan tersebut. Semua karyawan bisa jadi PR perusahaan saat itu juga, ketika dia update status tentang produk/peluncuran/semua hal yang baru sampai kejelekkan yang ada di perusahaan tersebut.

PR hebat adalah yang kenal deket sama redaktur, editor dan semua wartawan. PR sunah kenal semua key person media – intinya bagus deh kalau kenal, tapi jangan lupa yang paling penting, yakni PR wajib kenal sama influencer top untuk customernya, dan akrab sama loyal customernya.

PR sukses kalau acara peluncurannya diliput di koran, majalah dan televisi di mana-mana. Banyaknya coverage media memang menjadi salah satu ukuran sukses program PR. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah engagement dan feedback langsung yang diperoleh dari customernya. Seperti misalnya, posting di kaskus, langsung ribuan orang yang kasih feedback. Itu lebih oke, daripada tayang di tivi A, tapi rating tivi tersebut tidak terlalu bagus.

PR menghitung media value PR berdasarkan nilai coverage free yang didapat. PR tetap menghitung media value coverage liputan, tapi lebih percaya lagi-lagi pada engagement dan feedback dari customer/community-nya.

PR mengurus CSR perusahaan. PR memang bisa jadi mengurus CSR perusahaan, tapi CSR yang sustainable dan kontinyu bukan dipegang PR sendirian, melainkan melibatkan dukungan dan komitmen dari pemimpin perusahaan dan seluruh karyawan di perusahaan tersebut.

PR itu harus cantik.  Hahaha, it’s so last year yah. Hari gini harus cantik? Padahal PR sekarang yang penting pintar lho. Pintar dalam arti unggul, mengerti dan bekerja dengan hati di dalam setiap teknis pekerjaannya. Juga percaya diri. Pandai bergaul. Dan yang paling penting  bernilai lebih  di mata orang lain.🙂

PR harus mengikuti tren. PR harus kreatif, dan justru wajib menciptakan tren. Jika itu bisa, maka WOMM-nya (word of mouth marketing – nya) gampang jalannya.

Terakhir, ini yang paling saya suka🙂

Program PR biasanya dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan bisa setahun sebelumnya. PR sekarang, meeting sekarang, ya besok dilaksanakan.🙂

Ada lagi? Tambahin donkk ..🙂

Posted by Afril Wibisono

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in Communication Studies, PR 2.0 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to PR Soooow Last Year VS PR Now

  1. Wah, tulisannya membuka saya yg mau belajar tentang PR. Suka banget kalimat “kalau mau maju dikasih masukan maka akan dicermati”
    Kalau boleh nambahin berarti lini dibawah PR adalah termasuk customer service dan merancang SOP untuk customer service, karena at end mereka akan berhubungan dengan customer.

  2. waahhh ahahaha, unik ini tulisan. jarang-jarang loh bisa ketemu dan bacanya nyaman kayak gini. mood utk bikin pr kayak nya makin oke nih hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s