Kategori Customer: Customer Beli Nanti vs Customer Beli Sekarang vs Langganan

afril wibisonoSebenarnya saya sudah lama ingin sekali menulis tentang judul di atas, tapi waktu saya akhir-akhir ini hampir tidak memungkinkan untuk sharing lebih banyak lewat tulisan di blog. Waktu itu saya sudah sempat twit, tapi namanya twit ya .. agak kurang okelah kalau dijadikan dokumen sepanjang masa. Karena sifatnya, yang langsung tenggelam jika setelahnya ada puluhan twit yang membahas hal yang lain.

Okeh, kita mulai ya. Saya mulai tertarik mengkategorisasi jenis customer ketika saya membaca artikel di majalah kenamaan marketing, 6 tahun terakhir. Sudah lama sih, tapi sejak saya baca, saya langsung menerapkannya di fungsi saya di perusahaan sampai sekarang dalam menerapkan strategi marketing.  Di situ disebut namanya Future Customer dan Now CustomerFuture Customer identik dengan Purchase Later. Sementara Now Customer identik dengan Purchase Now. Atau kalau di bahasa Indonesia-kan, Customer Beli Nanti dan Customer Beli Sekarang.

Namanya Marketing. Agak berkelok dalam mencapai tujuan menaikkan penjualan. Agak lama. Agak ribet. Agak tidak langsung. Beda sekali dengan sales. Yang langsung kelihatan hasil gagal berhasilnya. Cepat dan langsung. Kalau marketing itu lebih berseni.

Tanya ya. Pernah gak mengalami, Anda akhirnya booking hotel di salah satu jasa booking hotel ternama karena setiap minggu Anda dikirimi newsletter penawaran via email oleh jasa booking hotel tersebut, dan akhirnya tergoda untuk mencoba booking. Itupun karena Anda juga sering melihat billboard-nya ada di mana-mana, atau iklannya selalu muncul jika Anda membaca berita di media massa online, atau diperdengarkan di radio. Atau karena menurut teman Anda, kalau mau booking hotel harga miring mending booking di situ saja  soalnya sering kasih harga gila di program-program promonya.

Itu marketing. Membuat strategi bagaimana target kita yang belum menjadi customer, diperkenalkan untuk menjadi future customer. Setelah sudah menjadi future customer, baru diarahkan agar bisa menjadi Now Customer. Caranya bagaimana? Caranya banyak. Makanya harus sering baca buku marketing, ikut seminar, chit chat dengan marketer profesional yang mempuni. Tapi tau gak, kalo ternyata ada seorang ibu, yang lulus kuliah pun saya kira tidak ya, tapi sudah bisa menciptakan strategi marketing agar Customer Beli Nantinya berubah menjadi Customer Beli Sekarang. Bahkan jadi Repeat Customer alias langganan.🙂

Ceritanya saya setiap pagi selalu melewati daerah Meruya jika ingin ke kantor. Jangan ditanya macetnya yaa .🙂 Suatu ketika di sebuah perempatan meruya di suatu Senin pagi saya melihat ada yang tidak biasa. Ada gerobak makanan baru di situ, di deretan gerobak bubur ayam dan gorengan. Gerobak dengan  banner kainnya kuning ditulis Pecel Madiun Super Maknyos! Sebagai penggemar pecel, saya langsung melirik. Tapi hanya melirik saja. Tidak berpikiran macam-macam. Karena sudah cukup tersita pusat perhatiannya dengan macet sekitar situ.

Hari kedua, saya lewat situ lagi. Masih melirik, kini lebih lama. Karena saya melihat antrian di gerobak pecel. Setelah itu kembali lewat seperti biasa.

Hari ketiga, saya lewat situ lagi. Masih melirik, kali ini sambil mikir. Oh, yang jualan ibu-ibu, terlihat sibuk melayani pembeli. Habis itu, lewat lagi seperti biasa.

Hari Kamis dan Jumat, mulai galau. Karena melihat banyak antrean yang mendatangi si gerobak pecel. Beli nggak. Beli nggak. Akhirnya tetep ga beli. Tetep lewat aja.🙂

Hari berikutnya, setelah libur weekend, saya sudah merencanakan dari subuh pagi, saya mau sarapan saya pecel yang ada di perampatan meruya pagi ini. Ketika lewat, dengan niat yang sangat tulen, saya memarkirkan mobil saya ke pinggir jalan (info saja, hal yang paling malas saya lakukan salah satunya adalah parkir mobil di pinggir jalan, bukan tempat parkiran). Saya langsung ke gerobak pecel. Dan langsung pesan, pecel satu pake lontong dibungkus.

Si ibu tampak senang melihat saya (mungkin karena customer baru). Ketika saya minta sendok ke ibu supaya saya tidak repot nanti makannya di kantor, si ibu bilang sendok plastiknya habis. tapi gak pake pikir panjang dia langsung menyodorkan sendok logamnya dan langsung dimasukkan ke plastik. Saya langsung bilang, loh ini kan sendok ibu. Dia tersenyum menjawab, “Gak papa mbak. Sendoknya bisa dikembalikan nanti kalau mbak mampir ke sini lagi.” Saya surprise dan langsung tersenyum, dan mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

Di kantor saat saya menikmati sarapan pecel saya, saya memikirkan si ibu penjual pecel, dan mengagumi caranya membuat saya yang baru saja jadi Customer Beli Sekarang pecel madiun, langsung diikat menjadi Customer langganan gara-gara sendok .. dan pecel yang enak. .:)

pecel What a cool strategy! Bagaimana dengan strategi Anda? Boleh sharing yah.

About afrilwibisono

Online and Digital Marketing are passion fieldwork for Afril. Start with career in LG Electronics Indonesia, Afril has gained multi cross experience on communication, public relations, marketing, digital and online marketing. She has worked at Rajakamar International Group , as Marketing Digital and Communication Division Head. Previously, she was Marketing Communication Manager at Rajawali Corpora - Express Group (2012), Corporate Communication Manager for Mensa Group, PR Manager for Restylane Indonesia and Digital Manager for Chicco Indonesia as well (2008 - 2011) . Now, she acts as CMO at 8commerce, a scalable end to end ecommence enabler. In weekend, she acts as official lecturer for marketing communication major in Bina Nusantara University. About her education history, in 2001 she finished her bachelor degree with cum laude status from Communication Universitas Padjadjaran. Then, in June 2010 she finished her master of communication management from Universitas Indonesia.
This entry was posted in marketing and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kategori Customer: Customer Beli Nanti vs Customer Beli Sekarang vs Langganan

  1. ian says:

    cerita yang menarik…salam kenal
    saya mau tanya bagaimana kita bisa mendapatkan manfaat dari sebuah pemasangan iklan display di koran dilihat dari sudut PR terutama PR valuenya..karena selama ini saya hanya melihat dari respon terhadap iklan tersebut dari sisi telpon masuk (call in) dan tamu datang (walk in)..terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s